Padusan Sambil Digoyang Dangdut di OMAC Klaten

Objek Wisata Mata Air Cokro (OMAC) Klaten. (Solopos/Dok)
15 Mei 2018 10:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pengelola umbul di Klaten bersiap-siap menyambut tradisi padusan yang rutin digelar menyambut Ramadan. Objek Wisata  Mata Air Cokro (OMAC) mempersiapkan padusan dengan hiburan musik dangdut OM Kalimba dan OM Sera.

Sedangkan Umbul Ponggok lebih mengutamakan peningkatan pelayanan dan fasilitas pengunjung. Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Pantoro, mengatakan padusan di OMAC dimeriahkan sejumlah pertunjukan seni seperti Tari Gambyong, Sendratari Wayang Tirto Suci, angklung, konser musik dangdut dari OM Kalimba dan OM Sera.

Tokopedia

"Dangdut digelar dua hari pada 14 Mei dan 15 Mei. Sedangkan puncaknya akan digelar pada Rabu [16/5/2018]," tutur Pantoro.

Pantoro menerangkan untuk menarik minat pengunjung, Disparbudpora sedang melakukan penataan kawasan OMAC mulai dari penataan jalan, fasilitas, gazebo, kamar mandi, hingga lampu hias. Untuk penataan objek wisata  itu Pemkab Klaten menggelontorkan dana senilai Rp1,7 miliar.

"Kami berharap ini bisa menggenjot kunjungan sebanyak mungkin tak hanya pada saat padusan," kata dia.

Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Tirta Mandiri Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Joko Winarno, mengatakan menyongsong padusan tidak mempersiapkan hiburan tambahan seperti tahun sebelumnya yang menyajikan musik dangdut. Ponggok lebib fokus pada peningkatan fasilitas demi kenyamanan pengunjung saat terjadi lonjakan kunjungan.

Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain keamanan, lalu lintas, dan keselamatan di air. "Kami berkoordinasi dengan stakeholder lain untuk peningkatan keamanan, lalu lintas, dan keselamatan di air. Lonjakan pengunjung membutuhkan pengawasan ekstra di lapangan," kata Joko saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (14/5/2018) pagi.

Ketiadaan hiburan tambahan itu salah satunya disebabkan adanya wahana wisata  Ninja Warrior. Wahana itu cukup banyak memakan ruang umbul. Jika menambah hiburan, dikhawatirkan akan terjadi peningkatan keramaian sehingga menurunkan tingkat pengawasan kepada pengunjung.

"Kalau lokasi padat pengunjung, pengawas kesulitan memantau pengunjung. Kami berkoordinasi dengan lembaga terkait agar pengawasan ini ditangkatkan untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan pengunjung," beber dia.

Ia menilai keberadaan umbul di sekitar Umbul Ponggok menjadi salah satu faktor untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung ke Ponggok. Hal itu didorong dari efek positif keberadaan Umbul Ponggok yang memicu desa-desa mulai menggarap potensi sejenis sebagai contoh Umbul Susuhan.

"Di sisi lain, kami bisa disebut memiliki kompetitor. Akibatnya market share ini fluktuatif, kadang naik, kadang turun," terang Joko.