10 Hari di Kios Darurat, Bakul Pasar Sambi Sragen Kehilangan Omzet 70%

Para pekerja merobohkan dan membongkar bangunan kios dan los di Pasar Sambi, Sambirejo, Sragen, Rabu (16/5 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
17 Mei 2018 10:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Puluhan pedagang Pasar Sambi, Sambirejo, Sragen, mengeluhkan omzet pendapatan mereka anjlok sampai 70% setelah 10 hari menempati kios darurat.

Sebanyak 77 pedagang Pasar Sambi harus menempati kios darurat karena pasar  tersebut direvitalisasi dengan anggaran Rp1,21 miliar. Pasar darurat itu menempati lahan sewa di belakang Pasar Sambi.

Tokopedia

Mereka mendapat lokasi dhasaran yang lebih sempit dari lokasi dhasaran semula di Pasar Sambi karena sifatnya darurat. Sebenarnya mereka meminta supaya revitalisasi  Pasar Sambi dilakukan setelah Lebaran sehingga bisa mendapatkan berkah menjelang Lebaran.

Namun, permintaan para pedagang itu tak dikabulkan Pemkab Sragen. Tukinem, 61, pedagang sayuran asal Wonorejo RT 024, Desa/Kecamatan Sambirejo, Sragen, mengaku sudah 25 tahun berjualan di Pasar Sambi dan omzetnya tak pernah anjlok separah ini.

“Jualan di pasar darurat ya seperti ini, sepi. Pembeli tak banyak yang tahu karena lokasinya tak terlihat dari jalan. Saat buka di Pasar Sambi bisa mendapat omzet Rp500.000/hari. Sekarang sejak pindah di pasar darurat omzet jadi anjlok menjadi Rp150.000/hari. Paling ramai hanya Rp200.000/hari,” ujarnya.

Dia menilai pendapatan hariannya tinggal sepertiga dari pendapatan sebelum pindah ke pasar darurat. Kondisi itu diterima Tukinem karena tak bisa berbuat banyak. Tukinem maunya pindah ke pasar darurat setelah Lebaran tetapi Pemkab tak mengizinkan.

“Lebaran itu memontum pedagang untuk mencari untung. Saya bisa mencapat omzet Rp1,5 juta per hari selama menjelang Lebaran. Nanti bagaimana belum tahu,” tuturnya.

Keluhan senada juga disampaikan Suji, 43, pedagang grosir kelontong yang menempati kios darurat berukuran 1,5 meter x 2 meter. Padahal ukuran kios di Pasar Sambi yang ditempatinya 3 meter x 4 meter.

“Biasanya, saya bisa mendapat omzet Rp5 juta-Rp6 juta. Sekarang pendapatannya hanya Rp3 juta-Rp4 juta per hari. Sebagian dagangan kami bawa pulang untuk keamanan. Lokasi kios sekarang tak terlihat dari jalan. Padahal dulu ada di pinggir jalan dan bisa buka sampai sore. Sekarang setelah pukul 10.00 WIB sudah tak ada pembeli datang,” katanya.

Kabid Pengelolaan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, Rahmadi, menyampaikan jumlah pedagang Pasar Sambi yang terdata sebanyak 77 orang. Dia menjelaskan mereka menempati pasar darurat yang dibangun dengan anggaran Rp63 juta.

“Lokasinya masih sewa, yakni senilai Rp4 juta dipotong PPh selama proses revitalisasi  selesai,” ujarnya.