Asale Desa Plosowangi Klaten dan Pohon Palasa yang Tak Bersisa

Kantor kepala Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Klaten. (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
17 Mei 2018 12:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Plosowangi adalah nama salah satu desa di Kecamatan Cawas, Klaten. Nama desa bisa ditelusuri pada nama pohon yang kini sudah hilang tanpa jejak di desa setempat, pohon palasa.

Kaur Pembangunan Desa Plosowangi, Subiyanto, menceritakan pohon palasa atau pohon ploso dalam bahasa Jawa memiliki permukaan daun yang halus dan bentuknya lebar. Zaman dahulu, pohon ini banyak ditemui di perkampungan hingga permakaman.

Pohon ini memiliki bunga berwarna merah. Saat mekar, bunga inilah yang menimbulkan bau wangi. Dari situlah asal-usul  munculnya nama Plosowangi.

"Karena baunya wangi dan tercium ke wilayah yang luas, kawasan ini lantas dinamai Plosowangi atau pohon palasa yang harum," ujar dia saat ditemui Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan saat itu daun palasa banyak dimanfaatkan warga untuk membungkus pecel. Aroma daun palasa menurut cerita  bisa menambah selera makan.

Di Desa Plosowangi terdapat sebuah pohon palasa besar di tengah-tengah permakaman desa setempat. Pohon itu tumbang dan di Plosowangi tak ada satu pohon palasa tersisa. "Sekarang pohonnya tinggal cerita," ujar dia.

Kendati demikian, Pemerintah Desa Plosowangi terus berupaya mendapatkan bibit pohon palasa. Ia mencari pohon itu hingga ke Jawa Barat dan Jawa Timur. Kabarnya, pohon palasa banyak ditemui di Nusa Tenggara.

Menurut Subiyanto, pohon itu akan ditanam kembali di permakaman dan sejumlah lokasi lain. Permakaman dipilih agar tak ada orang iseng merusak tanaman. Pohon palasa diharapkan bisa menjadi ikon Desa Plosowangi, Klaten.

"Kabarnya di Nusa Tenggara ada. Kami berusaha untuk mendatangkan bibit palasa ke sini," harap dia.