Kisah Inspiratif Mantan TKI Ajari Mengaji 105 Santri di Wonogiri

Abdul Hadi mengajar mengaji setelah Salat Asar berjamaah di gubuk santri yang berada di sebelah rumahnya pada Selasa (15/5 - 2018) sore. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
17 Mei 2018 06:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Abdul Hadi, yang kini tinggal di Wonogiri menjadi guru mengaji bagi 105 anak. Meski sederhana, masyarakat sekitar dan anak-anak antusias mengaji Alquran dan ilmu agama lainnya.

Memakai sarung hitam, Abdul Hadi mulai mempersiapkan ruangan kecil yang terbuat dari kayu yang akan digunakan 105 santrinya mengaji. Rambutnya yang mulai memutih menunjukkan usianya tak lagi muda.

Sore itu ia menata buku-buku untuk para santri. Sementara istrinya, sibuk mondar-mandir dari dapur menuju halaman rumahnya untuk menjemur renginan yang menjadi penyambung kehidupan keluarganya di Dusun Manjung Kulon, Desa Manjung, Kecamatan Wonogiri, Selasa (15/5/2018).

Pertemuan Abdul Hadi dengan istrinya, Siti Fatonah, terjadi ketika mereka menjadi TKI di Malaysia puluhan tahun lalu. Abdul hadi bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil sedangkan istrinya yang merupakan warga asli Desa Manjung bekerja sebagai buruh elektronik.

Hingga pada akhirnya pada tahun 2001 mereka memutuskan menikah dan dikaruniai dua orang anak.

Setiap setelah Salat Magrib, Abdul Hadi mengajar anaknya mengaji. Hanya perlu waktu dua minggu, sang anak dapat membaca Alquran dengan lancar. Hingga pada akhirnya, salah satu kerabat pria asal Bumiayu, Brebes, tersebut diminta untuk mengajar mengaji anak dan kerabat yang berencana melanjutkan sekolah ke pesantren.

Masyarakat sekitar Desa Manjung yang melihat Abdul Hadi mengajar ngaji, secara perlahan mulai menitipkan anak-anak mereka untuk dibimbing oleh Abdul Hadi yang merupakan lulusan Pondok Pesantren Subulussalam, Bumiayu, Brebes, setiap bakda Ashar.

Sejak tahun 2007 Abdul Hadi bersama Siti Fatonah mengajar mengaji yang mereka namakan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Subulussalam.

Rumah Abdul Hadi yang memiliki empat kamar dan ruang tamu menjadi tempat belajar mengaji setiap harinya. Bahkan, dapur rumah milik Abdul Hadi terpaksa diberi sekat yang memisahkan antara tempat memasak dan mengaji.

Hingga akhirnya, untuk mengakomodasi ratusan santrinya, Abdul Hadi membuat ruangan dari kayu yang yang biasa di sebut sebagai gubuk santri. Gubuk seluas 3 x 5 meter dengan papan tulis yang warna putihnya sudah menghitam akibat setiap hari digunakan. Sepuluh meja setinggi 30 sentimeter berjajar rapi berdiri di sebuah karpet hijau yang sedikit usang.

Semangat santri mengaji sangat tinggi. Bahkan, banyak santri yang tidak berasal dari Desa Manjung, melainkan luar desa seperti Desa Purwosari dan Sonoharjo. Tak tega ketika melihat semangat mengaji itu pupus karena jarak dan cuaca, bdul Hadi membeli sebuah mobil jenis Daihatsu Espass.

Setiap hari ia menjemput satu per satu santri untuk mengaji.

“Saya tidak tega melihat semangat anak-anak mengaji. Apabila hujan atau tidak ada yang mengantar, mereka tidak berangkat mengaji. Jadi saya jemput, terkadang ada yang membantu menjemput,” ujar Abdul Hadi saat ditemui solopos.com di kediamannya.

Setiap mengaji anak-anak diajari membaca Alquran serta ditambah pelajaran seperti akhlak, fikih, tauhid, dan Bahasa Arab. Abdul Hadi berharap hal-hal yang ia ajarkan bisa menjadi bekal untuk masa depan para santri, khususnya yang ingin melanjutkan ke pesantren.