BPOM Jateng Temukan Makanan Berbahaya di Pasar Nongko Solo

Petugas BPOM menunjukkan teri nasi yang mengandung formalin di Pasar Nongko, Solo, Jumat (18/5 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
18 Mei 2018 13:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Petugas Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Tengah (Jateng) menemukan sejumlah bahan makanan mengandung pengawet formalin dan pewarna rodhamin-B saat inpeksi mendadak (sidak) di Pasar Nongko, Solo, Jumat (18/5/2018).

Bahan makanan yang kedapatan mengandung formalin, yakni teri nasi atau ikan asin kecil dan cumi kering. Sedangkan bahan makanan yang kedapatan mengandung rhodamin-b (perwarna tekstil), yakni kerupuk warna-warni.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, petugas BPOM Jateng langsung memeriksa kadungan bahan makanan yang mereka dibeli dari pedagang di Pasar Nongko. Sedikitnya ada 50 sampel bahan makanan yang dibeli dan diperiksa petugas BPOM di Ruang Pengelola Pasar Nongko.

"Kami sudah uji 10 sampel bahan makanan. Hasilnya, ada sejumlah bahan makanan  yang positif mengandung bahan berbahaya seperti formalin dan rhodamin-b," kata laboran di Laboratorium Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM Jateng, Tri Novitarini, di Pasar Nongko, Jumat.

Rini menuturkan BPOM Jateng beberapa tahun terakhir kerap menemukan teri nasi mengandung formalin. Selain teri nasi, BPOM juga mendapati mi basah positif mengandung bahan pengawet bukan untuk makanan.

Dia menyebut sejak 2013 lalu tren bahan makanan yang mengandung formalin memang berubah dari bakso menjadi ikan asin khususnya teri nasi, dan mi basah. Rini menerangkan risiko masyarakat mengonsumsi bahan makanan berformalin yakni rawan kena kanker.

"Secara kasatmata memang susah membedakan antara makanan yang berformalin dengan yang tidak. Harus ada pemeriksaan laboratorium seperti ini. Berbeda dengan deteksi kandungan rhodamin-b. Masyarakat bisa memanfaatkan alat money detector. Jika ada bagian makanan yang berpendar, diduga kuat mengandung rhodamin-b," jelas Rini.

Meski telah mengetahui teri nasi, cumi kering, dan kerupuk warna-warni di Pasar Nongko mengandung zat berbahaya, petugas Dinas Perdagangan (Disdag) Solo yang turut mendampingi petugas BPOM keliling pasar tak lantas menarik bahan makanan tersebut dari peredaran.

Kepala Disdag Solo, Subagiyo, menegaskan bukan ranah Disdag untuk menarik bahan makanan yang mengandung bahan berbahaya itu dari tangah pedagang. Disdag hanya bisa mengimbau pedagang tak menjual makanan yang terbukti mengandung zat berbahaya. Masyarakat juga diminta lebih selektif berbelanja.

"Para pedagang kami minta ke depan kalau kulakan ke distributor lain. Distributor yang menyediakan bahan makanan tak berformalin atau mengandung zat berbahaya lain kan masih banyak," jelas Subagiyo.

Subagiyo menyampaikan BPOM Jateng sementara ini hanya memeriksa kandungan bahan makanan yang dijual di Pasar Nongko. Sedangkan pemeriksaan kandungan bahan makanan di pasar lain akan dilakukan Disdag bekerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Solo.

Dia menyebut sedikitnya Disdag selama ini telah rutin melakukan operasi pasar minimal tiga kali setahun. Pemeriksaan kandungan bahan makanan sendiri bisa ditangani Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo.

"Saat ini kami kerja sama dengan BPOM Jateng melakukan uji kaitannya dengan keamanan pangan. Kami ingin memastikan, yang petama bahan makanan yang dijual itu beracun atau mengandung obat berbahaya atau tidak," jelas Subagiyo.

Kedua, lanjut dia, terkait produksinya, apakah menggunakan barang-barang yang tak diizinkan seperti pengawet, pewarna, dan pengenyal bukan untuk makanan. "Kebetulan ini juga memasuki Ramadan. Kami juga akan mengecek pasar lain," jelas Subagiyo.