Suspect Difteri, 2 Santri Ponpes di Ampel Boyolali Diisolasi

ilustrasi penyakit difteri. (suara.com)
18 Mei 2018 15:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Dua santri salah satu pondok pesantren (Ponpes) di Ampel, Boyolali, diduga (suspect) terkena difteri. Saat ini keduanya dikarantina di Ruang Isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Arang (RSUDPA) Boyolali.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Jumat (18/5/2018), dua pasien tersebut memeriksakan diri pada Minggu (13/5/2018) di salah satu klinik kesehatan di Ampel. Dokter sekaligus pemilik klinik yang menangani pasien itu, Sherly Jeanne Kilapong, mengatakan saat itu keduanya mengeluhkan gangguan pada tenggorokan dan demam.

Menurut hasil pemeriksaan Sherly yang juga Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, penyakit yang diderita dua santri itu mengarah pada difteri sehingga ia merujuk keduanya ke RSUDPA. “Minggu lalu ada dua pasien perempuan ke klinik [mengarah kepada penyakit difteri] lalu saya rujuk ke RSUDPA],” ujarnya kepada Solopos.com, Jumat.

Dia menjelaskan penyakit difteri sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi sejak bayi. Gejalanya antara lain panas dan sulit menelan. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian dan sangat menular kepada mereka yang belum diberi imunisasi atau imunisasinya tidak lengkap.

Sementara itu, RSUDPA Boyolali membenarkan informasi adanya pasien difteri tersebut. Kasubbag Hukum Humas dan Sistem Informasi Menejemen RSUDPA Yuni Etty Armawati mengatakan ada dua pasien rujukan dokter umum di Ampel.

“Iya, memang ada dua orang perempuan berusia 14 tahun dan 17 tahun dari dokter di Ampel yang dirujuk ke sini pada Minggu [13/5/2018],” ujarnya saat ditemui di ruangannya.

Menurut Etty, saat ini keduanya menempati Ruang Isolasi rumah sakit sembari menunggu hasil pemeriksaan. Kasi Pelayanan Penunjang Medik RSUDPA Yuni Astuti menambahkan berdasarkan pemeriksaan dahak pasien, keduanya negatif difteri.

Meski demikian, masih diperlukan pemeriksaaan lanjutan dengan kultur jaringan untuk memastikannya. “Hasil pemeriksaan dahak sih negatif dan kami periksa secara kultur jaringan. Nanti jika bakteri berkembang biak, mereka berarti difteri,” kata dia.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan  (Dinkes) Boyolali berencana melakukan tindakan atas adanya kasus tersebut. Sherly mengatakan akan melakukan Outbreak Respons Immunization (ORI) ke ponpes tersebut. “Kami rencana melakukan ORI di Ponpes itu,” imbuh dia.