Berharap Kesetaraan Lewat Pentas Ketoprak Siswa Pendidikan Nonformal

Peserta didik pendidikan nonformal PKBM Dewi Fortuna memainkan lakon Kajoran 1672 saat mementaskan ketoprak di gedung serbaguna kantor Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Selasa (15/5 - 2018).(Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
18 Mei 2018 02:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com. KLATEN -- Sorot lampu ke panggung permanen di gedung serbaguna Kantor Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten, seketika mati sebagai penanda pentas ketoprak dimulai, Selasa (15/5/2018) malam. Tak berapa lama, lampu kembali menyala terang diiringi suara gending dan kidung para pesinden.

Dua pemain ketoprak akhirnya muncul. Berpakaian surjan, mereka mengawali pentas ketoprak dengan berbagai banyolan sebelum memasuki adegan utama. Pentas ketoprak malam itu menampilkan lakon Kajoran 1672 tentang peristiwa bersejarah di Desa Kajoran, Kecamatan Klaten Selatan, pada masa Mataram. Lakon itu mengisahkan perjuangan Raden Wiramenggala dan Pangeran Kajoran yang menolak tindak kesewenang-wenangan penguasa.

Ketoprak itu melibatkan 38 orang. Mayoritas pemain ketoprak merupakan peserta didik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dewi Fortuna dari total 70-an peserta didik untuk kejar paket B (setara SMP) serta kejar paket C (setara SMA). Selama lebih dari sebulan peserta didik pendidikan nonformal berlatih untuk menyajikan pentas ketoprak pendidikan nonformal yang baru kali pertama digelar.

Anik Suryani, 22, menjadi salah satu peserta didik PKBM untuk jenjang kejar paket C yang ikut pentas malam itu. Warga Desa Logede, Kecamatan Karangnongko, Klaten, itu tampil sebagai salah satu pemain dagelan.

Ibu satu anak tersebut terpaksa tak melanjutkan pendidikan setamat SMP pada 2011 lantaran ikut orang tuanya merantau ke Kalimantan. Hingga akhirnya ia menempuh pendidikan kejar paket C sejak 2016 lalu. Rabu malam menjadi penampilan perdana Anik pada pentas ketoprak.

“Rasanya tentu senang. Harapannya ya peserta didik lembaga pendidikan nonformal itu diberikan ruang untuk tampil seperti ini. Penampilan malam ini juga menunjukkan bahwa kami juga bisa mementaskan ketoprak,” katanya.

Peserta didik lainnya yang tampil pada malam itu yakni Purwadi, 52, yang akrab disapa Hayek Sinaga. Ia memerankan tokoh raja diktator, Amangkurat I.

Menampilkan tokoh raja jauh dari keseharian Purwadi yang sejak 27 tahun terakhir bekerja sebagai salah satu juru pelihara di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Pria yang saban hari bertugas memelihara serta menjaga batu Candi Sewu tersebut menjadi peserta didik kejar paket B atau setara SMP sejak dua tahun terakhir.

Ia tak melanjutkan jenjang pendidikan setamat SD pada 1984 silam saat masih tinggal di wilayah perbatasan di antara Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

“Saat itu jarak antara rumah dengan SMP sekitar 75 km. Akhirnya saya tidak melanjutkan sekolah. Pada 1991, saya merantau ke Jawa,” kata pria yang kini tinggal di Desa Pereng, Kecamatan Prambanan.

Purwadi pun baru kali pertama bermain ketoprak. Rasa degdegan tentu dirasakan bapak satu anak tersebut sebelum tampil. “Rasanya campur aduk. Di samping belum pernah, saya sendiri juga penasaran karena memiliki rasa ingin tahu seni ketoprak itu seperti apa dan ingin belajar serta terjun langsung,” katanya.

Ketua panitia acara, M. Sulaiman, menuturkan pementasan malam itu dimaksudkan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pentas ketoprak menjadi bagian pendidikan karakter bagi peserta didik di PKBM Dewi Fortuna.

“Pilihannya ke ketoprak karena katanya Klaten akan dijadikan sebagai Kota Ketoprak. Harapan kami dari pementasan malam ini pendidikan keseteraan bisa mendapat tempat yang sama dengan pendidikan formal. Kalau pendidikan formal kan sudah ada wadahnya berupa FKP [Festival Ketoprak Pelajar]. Kami inginnya itu yang nonformal juga bisa disikapi pemerintah dengan festival yang sama,” kata Sulaiman.

Sulaiman menuturkan semangat peserta didik pendidikan nonformal guna mempersiapkan pementasan malam itu tinggi. Mereka pun rela urunan untuk menyiapkan segala peralatan pentas. “Menyisihkan uang untuk beli buku pelajaran sangat sulit. Tapi, giliran urunan untuk acara malam ini semangatnya tinggi,” ungkapnya.