Keluarga Teroris di Mata Mantan Teroris

Ilustrasi. (Istimewa)
18 Mei 2018 03:45 WIB Rahmad Fauzan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Mantan pelaku tindak pidana teroris Ali Fauzi Manzi mengatakan terorisme bukanlah sesuatu yang muncul secara instan. Terorisme, menurutnya, adalah hasil dari proses panjang yang perlahan mendorong seseorang untuk berkomitmen pada kekerasan yang mau mengatasnamakan Tuhan.

"Mencipta orang seperti ini tidak simsalabim. Perlu proses," ujarnya saat berbicara dalam forum Diskusi Publik "Memutus Mata Rantai Terorisme” di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Seperti pelaku bom Surabaya beberapa waktu lalu, Ali Fauzi mengemukakan bahwa Dita Supriyanto bukanlah sosok yang asing dengan urusan terorisme. "Polisi pun tidak tahu, Dita ini sesungguhnya ponakan daripada Pak Sukastopo," paparnya.

Perlu untuk diketahui, Sukastopo pernah ditangkap aparat pada tahun 2002 akhir karena termasuk jaringan Bom Bali I. Adapun, faktor genetis yang berpotensi mewariskan bakat teroris melalui keturunan memang merupakan masalah yang cukup mengkhawatirkan.

Tidak hanya Dita Supriyanto, Amin Abdilah yang juga ditangkap karena terlibat dalam kasus Bom Bali I, tidak lain dan tidak bukan adalah anak kandung Sukastopo. "Anaknya Imam Samudera, di sini [Indonesia] sudah betul-betul dijaga, lepas, ke sana, meninggal di Syria," lanjutnya.

Seperti diketahui, Dita Supriyanto melibatkan keluarganya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di Surabaya pada Minggu (13/5/2018). Satu hari kemudian, Senin (14/5/2018) Mapoltabes Surabaya juga mendapatkan serangan bom bunuh diri, yang juga dilakukan satu keluarga. "Artinya apa? Jaringan lama dan jaringan baru genetiknya nyambung," ujar Ali Fauzi.

Seperti diketahui, rangkaian teror bom bunuh diri terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dalam beberapa waktu belakangan ini. Serangan bom bunuh diri di Surabaya  merupakan yang paling parah dengan menimbulkan korban jiwa 28 orang dan 57 luka-luka.