Rentetan Bom di Surabaya Diduga Persoalan Gengsi Kelompok Teroris

Perencana bom gereja Surabaya ditangkap Densus 88. - Ist/Okezone
18 Mei 2018 07:45 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, SURABAYA - Surabaya, Jawa Timur, menjadi ajang aksi terorisme dengan sejumlah rentetan bom bunuh diri di gereja dan markas kepolisian beberapa waktu lalu. Bom yang mengguncang tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018), tercatat sebagai aksi teror pertama di kota Pahlawan tersebut.

Selang sehari, Senin (14/5/2018) awal pekan ini, giliran Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya yang diguncang bom bunuh diri.

Tokopedia

Mantan terpidana teroris Ali Fauzi menjelaskan, Surabaya dikenal sebagai kota persaingan gengsi antarkelompok pengusung platform jihad. “Ada empat kelompok yang bersaing di Surabaya,” kata Ali Fauzi dalam diskusi publik LIPI, di Widya Graha, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5/2018).

Keempat kelompok tersebut antara lain ialah Jamaah Islamiah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Ali memaparkan, Surabaya menjadi ajang adu gengsi keempat kelompok teroris tersebut juga karena persoalan ekonomi. Ia menuturkan, harga bahan-bahan bom di Surabaya terbilang murah. Selain itu, di Surabaya, mereka lebih mudah mendapatkan bahan-bahan kimia untuk pembuatan bom secara legal.

"Orang-orang mengira pembuatan bom mematikan memerlukan biaya yang besar, itu salah. Bahan bom itu paling mahal satu kilonya Rp20.000," papar Ali.

Selain itu, Ali menjelaskan bahwa banyak warga Surabaya yang ahli dalam proses pembuatan bom. "Sumber daya manusia tersedia di kota ini, artinya orang yang punya kemampuan untuk meracik, merakit di Surabaya cukup banyak," jelasnya.

Ali menambahkan, orang-orang tersebut sangat terampil dan memilki tekad kuat untuk mati syahid. "Orang-orang JI ada juga yang menyeberang ke JAD, para pelaku yang sudah siap ijtihad, bahasa mereka mati syahid, bom bunuh diri dan mereka paham area tanpa perlu observasi lapangan," pungkasnya.

Sumber : Suara