Terorisme di Indonesia, Ini Beda JI dan JAD!

Pimpinan JAD di Indonesia Aman Abdurrahman. (Reuters/Bea Wiharta)
18 Mei 2018 16:36 WIB Rahmad Fauzan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Aksi teror yang terjadi di Indonesia dalam sepekan terakhir ini tak lepas dari nama organisasi Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Mantan pelaku teror Ali Fauzi Manzi memaparkan perbandingan antara Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Banyak hal fundamental yang membedakan kedua organisasi Islam radikal tersebut. Tidak hanya memiliki amir (pemimpin) yang berbeda, Imam yang menjadi rujukan dan makna jihad kedua kelompok tersebut pun sangat berbeda.

Tokopedia

"Jemaah Islamiyah merupakan kombatan internasional. Ada ratusan orang Indonesia yang pernah mendapatkan pelatihan militer, pelatihan perakitan bom, baik itu di Afganistan, Pakistan, di Mindanao, dan di Thailand," papar Ali Fauzi diskusi publik bertajuk Memutus Rantai Terorisme yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (17/5/2018), sebagaimana dikutip Bisnis.com.

Ali mengatakan JI mulai beraksi sejak 1999 hingga 2010. "Pada 1999, ada konflik di Ambon, JI mengerahkan massanya ke sana. Tahun 2000 berhenti pasca tewasnya Nurdin M. Top dan DR. Azhari," lanjutnya.

Adapun, serangan paling populer yang digunakan oleh JI adalah bom mobil. Seperti diketahui, Bom Bali dan Bom Kedubes Filipina di Jakarta yang dilakukan oleh Abdul Jabar bin Ahmad Kandai dan Edi Setiono alias Usman, Bom Atrium dengan pelaku utama Imam Samudera, dilakukan dengan menggunakan bom mobil.

"Semua bomnya besar-besar," ujar Ali.

Dia melanjutkan, selain populer dengan bom mobil, JI juga kerap menggunakan bom rompi dalam melakukan aksinya dan sasaran Jemaah Islamiyah adalah musuh jauh, yakni simbol-simbol barat.

"Bisa orangnya, bisa bangunannya," ujar Ali.

JI memperoleh sumber dana dari luar negeri, yakni Al-Qaeda yang berafiliasi dengan Jabhah Nusro, suatu grup perlawanan yang ada di Syria.

Di mata anggota JI, meskipun Polisi merupakan toghut, tetapi bukan berarti mereka harus dibunuh, melainkan dibina.

"Mereka juga menganggap polisi itu toghut. Apa itu thoghut? Bahasa kasarnya adalah setan. Jadi polisi adalah setan. Tapi, baiknya mereka (JI), polisi masih bisa dibina, dididik, diarahkan," papar Ali.

Seperti diketahui, amir atau pemimpin JI adalah Abu Bakar Ba'asyir yang kini masih menjalani masa hukuman. Sama seperti JAD, Amirnya juga dipenjara, yaitu Aman Abdurahman.

Di sisi lain, lanjut Ali Fauzi, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) adalah kombatan lokal. "Orang JAD jarang yang dikirim ke luar negeri. Paling banter mereka berlatih di Poso. Nah ini yang membedakan tahun 2000-2010, bom yang meledak di Indonesia besar-besar, yang korban banyak ratusan, karena mereka (JI) memang ahli dalam merakit bom dengan skala besar. Sementara JAD hanya bom kecil-kecilan, meskipun intensitas serangan itu sering," paparnya.

JAD mulai beraksi dari 2011. Dimulai dengan sebuah bom kecelakaan yang terjadi di Cimanggis, Jawa Barat.

"Kebodohan kelompok ini (JAD) membawa 'berkah'. Mengapa saya katakan bodoh? Karena mereka tidak paham bahwa bom resistensi terhadap panas. Bomnya disimpan di platform, di atasnya atap. Begitu panas meledaklah bom ini. Banyak yang kemudian lari, ada yang sakit ditangkap polisi, sisanya melarikan diri ke Ambon," terangnya.

Ali Fauzi Manzi mengungkapkan, sumber dana JAD berasal dari dalam negeri dan berafiliasi dengan ISIS.

Adapun, JAD menargetkan near enemy, yakni polisi. Sejak 2010 hingga 2017, menurut Ali, sudah 70 polisi yang ditembak. Sasaran lain dari JAD adalah gereja.

JAD menilai polisi sebagai thoghut maka polisi mesti dibinasakan. "Karena dianggap sebagai sumber fitnah. Karena dalam mindset mereka polisi adalah setan, jadi boleh dibinasakan, baik itu menggunakan bom maupun senjata tajam," lanjut Ali.