Satu Korban Bom Surabaya Pernah Tinggal di Wonogiri

Personel penjinak bom (Jibom) bersiap melakukan identifikasi di lokasi ledakan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5 - 2018). (Antara / M Risyal Hidayat)
19 Mei 2018 19:40 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Petugas keamanan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Sawahan, Giri Catur Sungkowo, 42, meninggal dunia, Jumat (18/5/2018) malam, setelah dirawat di rumah sakit karena mengalami luka bakar parah akibat ledakan bom, Minggu (13/5/2018) lalu.

Giri pernah menjadi warga Brak Kidul, Kelurahan Giriwoyo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri. Warga setempat tak menyangka Giri menjadi salah satu korban teror bom di Surabaya.

Kapolsek Giriwoyo, AKP Mulyanto, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (19/5/2018), mengatakan berdasar informasi dari warga, Giri bersama keluarganya pernah tinggal beberapa tahun di Brak Kidul. Giri memiliki ayah bernama Juremi yang merupakan seorang anggota TNI bertugas di Koramil Giriwoyo.

Setelah ayahnya pensiun, Giri pergi ke Surabaya. Warga mendapat informasi Giri bekerja sebagai petugas satuan pengamanan (satpam) gereja di Surabaya. Namun, tak ada yang menyangka Giri menjadi salah satu korban teror bom  yang ramai diberitakan di berbagai media.

“Sekarang tidak ada lagi keluarganya yang tinggal di Brak Kidul,” kata Kapolsek mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede.

Lurah Giriwoyo, Mastika, menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Giri. Dia mengaku sebelumnya tak mengetahui Giri merupakan salah satu korban bom di Surabaya. Dia mengetahui kabar tersebut Sabtu.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, melayat ke rumah Giri di Jl. Pulosari III M No. 3 Pulosari RT 003/RW 007, Gunungsari, Dukuh Pakis, Surabaya, Sabtu. Pada kesempatan itu Risma memberi santunan dan akan menanggung biayai pemakaman. Selain itu Risma akan mempekerjakan anak Giri di lingkungan Balai Kota.

Sesaat sebelum peristiwa terjadi, Giri sempat mencegah mobil berisi bom  yang dikemudikan Dita Oeprianto agar tak masuk gereja yang beralamat di Jl. Arjuno itu. Tak lama kemudian bom meledak.

Giri mengalami luka bakar hingga mencapai 78 persen dan trauma inhalasi akibat menghirup banyak asap. Awalnya Giri dirawat di RS Bhayangkara lalu dirujuk ke RSUD dr. Soetomo Surabaya. Namun, nyawanya tak tertolong.