Merapi Sering Erupsi, Jalur Evakuasi Klaten Malah Rusak

Truk melintas di ruas Jl. Deles Indah, Desa Keputran, Kecamatan Kemalang, yang merupakan jalur evakuasi di lereng Merapi, Rabu (23/5 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
24 Mei 2018 21:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Jalur evakuasi dari lereng Gunung Merapi ke sejumlah selter dan kawasan lain di Klaten rusak karena sudah lima tahun tak diperbaiki. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan mengingat aktivitas Merapi yang meningkat dalam dua pekan terakhir.

Kondisi jalur evakuasi yang rusak itu menjadi sorotan dalam rapat koordinasi lintas sektoral digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten, Rabu (23/5/2018). Pemkab Klaten mengusulkan perbaikan jalur evakuasi itu ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sekretaris Daerah, Jaka Sawaldi, menyatakan usulan itu sudah disampaikan ke BNPB dan kini dalam proses verifikasi. Ia berharap perbaikan jalan bisa segera dilaksanakan untuk mempermudah proses evakuasi warga jika terjadi peningkatan status Gunung Merapi.

"Ada tiga jalur evakuasi yakni utara, tengah, dan selatan. Jalan itu dibangun lima tahun lalu dan kini rusak. Kami berupaya agar jalan itu bisa segera diperbaiki untuk memperlancar proses evakuasi warga," kata dia saat ditemui wartawan di sela-sela rakor di ruang rapat B1 Pemkab Klaten, Rabu.

Jaka menjelaskan jalur itu penting untuk mengevakuasi sekitar 11.000 jiwa di tiga desa di kawasan rawan bencana (KRB) III. Mereka sebagian akan ditempatkan di tiga selter yakni Desa Kebondalem Lor, Desa Menden, dan Desa Demakijo.

Sisanya, warga yang tidak tertampung di selter akan ditempatkan di desa paseduluran. Desa paseduluran terdiri atas 13 desa asal di Kecamatan Kemalang dan 20 desa penyangga. "Secara umum, kami siap menghadapi segala situasi Gunung Merapi," imbuh dia.

Dalam rapat itu, Jaka menekankan agar organisasi perangkat daerah (OPD) di semua sektor ikut terlibat dalam penanganan bencana. Tak hanya itu, ia mengajak peran aktif sukarelawan dan warga jika status Gunung Merapi meningkat. "Semua harus terlibat agar penanganan bencana bisa dilakukan komprehensif," ujar dia.

Ia mencontohkan penanganan komprehensif itu meliputi bagaimana proses evakuasi dari lereng ke tempat aman. Lalu memastikan kualitas sanitasi di tempat evakuasi. Selain itu, masalah pendidikan anak juga jangan sampai terabaikan.

Belum lagi kebutuhan logistik selama di pengungsian. "Kami juga harus memikirkan bagaimana perawatan ternak warga, bagaimana trauma healing bagi para korban, dan lainnya. Upaya itu butuh peran banyal pihak salah satunya OPD yang membidangi," beber Jaka.

Jaka menyebutkan saat ini status Gunung Merapi  masih waspada. Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. "Harapan kami status Merapi bisa segera normal kembali. Namun, jika terjadi peningkatan, kami siap menghadapi segala situasi," ujar Jaka.