Jalur Evakuasi Rusak Bikin Warga Lereng Merapi Klaten Khawatir

Truk melintas di ruas Jl. Deles Indah, Desa Keputran, Kecamatan Kemalang, yang merupakan jalur evakuasi di lereng Merapi, Rabu (23/5 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
25 Mei 2018 20:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Rusaknya jalur evakuasi membuat warga lereng Gunung Merapi  Klaten khawatir karena berpotensi menghambat proses evakuasi warga menuju selter pengungsian saat gunung berapi itu erupsi.

Kerusakan paling parah terjadi di lereng Merapi sisi timur menuju selter pengungsian di Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko. Di sisi timur, desa paling dekat dengan puncak Merapi dan masuk kawasan rawan bencana (KRB) III yakni Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.

Jumlah penduduk di desa itu sekitar 2.422 jiwa dengan sembilan warga penyandang disabilitas. Salah satu lokasi pengungsian untuk warga desa tersebut jika Merapi erupsi  yakni selter pengungsian Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko.

Jalan sepanjang jalur antara Desa Tegalmulyo hingga selter pengungsian rusak, terutama ruas antara Desa Tegalmulyo hingga Tlogowatu serta ruas antara Desa Jiwan hingga Desa/Kecamatan Karangnongko. Aspal mengelupas digantikan pasir dan batu hampir di sepanjang ruas jalan antara Tlogowatu hingga Tegalmulyo.

Ruas itu juga menjadi jalur padat lantaran truk galian C yang hilir mudik menuju lokasi pertambangan. Saat kemarau tiba, ruas jalan di antara dua desa itu diselimuti debu beterbangan ketika truk melintas di sepanjang jalan.

Kepala Desa Tegalmulyo, Sutarno, mengatakan rusaknya jalur evakuasi membahayakan warga yang melintas apalagi kerusakan jalan terjadi pada beberapa tanjakan. Rusaknya jalur evakuasi itu juga membuat waktu tempuh menuju selter kian panjang.

Jika sebelumnya jalan antara Desa Tegalmulyo hingga selter pengungsian bisa ditempuh dalam waktu 30 menit, kali ini butuh waktu minimal satu jam untuk mencapai selter pengungsian.

“Itu pun harus blusukan lewat jalan-jalan kampung. Kalau lewat jalur utama jelas tidak bisa,” kata Sutarno saat ditemui Solopos.com di BPBD Klaten, Kamis (24/5/2018).

Rusaknya jalur evakuasi juga menghambat perjalanan warga  menuju kantor desa sebagai titik kumpul ketika evakuasi harus dilakukan. Kondisi itu terutama untuk mengumpulkan 22 keluarga asal Dukuh Ngringin, tujuh keluarga asal Dukuh Grintingan, hingga seluruh warga Dukuh Girpasang yang jumlahnya ada 12 keluarga.

“Akses jalannya itu masuk jalan kabupaten. Dilintasi sepeda motor tidak memungkinkan karena rusak parah. Dilintasi kendaraan roda empat, khawatir terguling. Akhirnya harus memutar dulu, naik ke perkampungan lebih atas baru turun menuju balai desa. Kalau sebelumnya bisa ditempuh lima menit, sekarang menjadi 15 menit. Bisa dibilang warga di tiga dukuh itu selama ini terisolasi,” urai dia.

Rusaknya akses jalan penghubung antardukuh hingga balai desa itu juga membuat warga Dukuh Girpasang kian terisolasi. Girpasang merupakan perkampungan di perbukitan antara dua jurang. Akses menuju perkampungan yang dihuni 12 keluarga itu hanya bisa dilalui lewat jalan setapak sepanjang 1,5 km dengan menyusuri tepi tebing setinggi 100 meter.

Hingga kini, 12 keluarga itu masih bertahan tinggal di perkampungan mereka meski status Merapi naik dari normal menjadi waspada. “Informasinya segera mau diperbaiki. Namun, sampai saat ini belum ada titik terang. Kondisi saat ini sangat mendesak untuk mempersiapkan jalur evakuasi apalagi status Merapi sudah memasuki waspada,” jelasnya.

Plt. Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Klaten, Suryanto, mengatakan kelanjutan perbaikan jalan di ruas jalur evakuasi sudah dimulai yakni antara Pasar Kembang, Desa Keputran hingga Desa Dompol, Kecamatan Kemalang.

“Ada juga dari Mipitan [Desa Somokaton, Kecamatan Karangnongko] hingga Pasar Kembang. Jadi itu satu jaur, tetapi berbeda ruas. Pengerjaannya nanti berupa beton,” kata Suryanto.

Kontrak proyek peningkatan jalan itu selama empat bulan. Suryanto memastikan tak ada penutupan ruas jalan hingga mengganggu arus lalu lintas termasuk proses evakuasi. “Prinsip kami perbaikan jalan itu tidak ada penutupan arus jalan,” urai dia.

Disinggung jalur evakuasi lereng Merapi di Kecamatan Kemalang sisi timur, Suryanto membenarkan belum ada alokasi dana untuk perbaikan ruas jalan itu. Hal itu menyusul terbatasnya anggaran untuk peningkatan jalan.