Mau Lebaran, Petani 3 Kecamatan Sragen Malah Gigit Jari

Ilustrasi sawah kering saat musim kemarau. (Bisnis/Rahmatullah)
31 Mei 2018 08:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sebagian petani di tiga kecamatan wilayah Sragen terpaksa gigit jari lantaran gagal panen menjelang Lebaran 2018 ini. Tiga kecamatan tersebut, yakni Gemolong, Tanon, dan Mondokan.

Total luas lahan di tiga kecamatan itu yang gagal panen alias puso karena kekeringan mencapai 251 hektare dengan perincian di Gemolong 175 hektare, Tanon 23 hektare, dan Mondokan 53 hektare. Lahan mereka dinyatakan puso karena potensi panennya kurang dari 10%.

Berdasarkan data yang diperoleh Solopos.com, total ada 682 hektare tanaman padi di seluruh Sragen yang terdampak kekeringan. Lahan terdampak itu tersebar di delapan kecamatan. Koordinator Pengendali Organisme Penanggu Tanaman (POPT) Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Salimin, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu (30/5/2018), mengatakan delapan kecamatan itu yakni Gemolong, Miri, Sumberlawang, Kedawung, Kalijambe, Plupuh, Tanon, dan Mondokan.

“Banyaknya tanaman padi yang puso dan gagal panen itu disebabkan kekurangan air. Tanaman padi tersebut menempati areal sawah tanah hujan dan tegalan. Lahan yang mestinya ditanami palawija tetapi dipaksakan untuk tanaman padi untuk mengejar luas tambah panen pada 2018. Prediksi April-Mei masih ada hujan ternyata meleset,” ujar Salimin mewakili Kepala Dinas Pertanian Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari.

Tanaman padi yang puso dan gagal panen itu sudah berumur 58-88 hari sehingga sudah mulai berbunga dan berbuah dan membutuhkan asupan air minimal sepekan sekali. Dia menjelaskan di delapan kecamatan itu selama tiga pekan terakhir tidak ada hujan.

Dari hasil pendataan tim di lapangan, jelas dia, ada 285 hektare tanaman padi hanya potensi panennya 75%, tiga hektare tanaman padi bisa panen 50%, dan sebanyak 153 hektare terkena dampak kekeringan  berat karena hanya bisa panen 25%; dan 251 hektare tanaman padi lainnya tidak bisa panen karena potensi hasilnya kurang dari 10%.

Salimin menyampaikan solusi ke depan perlu adanya sumber air dari sumur dalam di delapan wilayah itu. Dia mengatakan selama ini satu unit sumur dalam itu hanya bisa menjangkau kebutuhan air untuk 4 hektare.

Dia pesimistis bila mengandalkan embung karena tidak ada hujan. “Untuk pembuatan sumur dalam bisa menggunakan teknologi alat yang bisa mendeketi keberadaan air di dalam tanah,” tuturnya.

Kasi Usaha Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Suwarso, menyampaikan dari ratusan hektare tanaman padi yang terkena dampak kekeringan, hanya 80 hektare di wilayah Miri yang bisa mendapat klaim asuransi dari PT Jasindo karena masa asuransinya masih terpenuhi.

Dia menjelaskan sementara untuk tanaman padi di Gemolong yang banyak yang puso tidak mendapat asuransi karena tidak ikut asuransi atau masa asuransinya sudah habis.