AJI Solo Diskusikan Krisis Buku Anak Indonesia Generasi Milenial

Poster diskusi bertajuk "Krisis" Buku Cerita Anak Indonesia. (Istimewa / AJI Solo)
01 Juni 2018 23:07 WIB Adib Muttaqin Asfar Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo, Komunitas Percik Aksara, dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Surakarta menggelar diskusi bertajuk Mendongeng “Krisis” Buku Cerita Anak di Indonesia di Green Library, Sabtu (2/6/2018) pukul 15,00-17.30 WIB.

Diskusi akan digelar di depan Café Librairie, Jl. Lumbang Tobing, Setabelan, Solo. Kegiatan ini menghadirkan Setyaningsih (penulis buku anak) serta Haerul Afandi (Ketua Perpustakaan Ganesa) sebagai pemantik diskusi.

Sekretaris AJI Solo, Chrisna Chanis Chara, dalam rilisnya mengatakan jumlah buku cerita anak yang diterbitkan di Indonesia sebenarnya cukup lumayan. Namun, ada sejumlah masalah di industri buku anak hingga kultur pembaca.

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mencatat ada 40.000 buku yang dicetak setiap tahun, sebagian besar merupakan buku anak. Namun minat anak membaca buku cerita anak cenderung berbanding terbalik dengan ketersediaan bukunya. “Generasi yang lahir di era saat ini boleh dibilang lebih tertarik mengakses internet dan media sosial daripada menenteng buku,” ujar Anna dari Percik Aksara.

Meski demikian, beberapa tahun terakhir muncul fenomena masif untuk menggerakkan kesadaran literasi buku anak seperti dengan gerakan donasi buku, gerakan membaca atau mendongeng hingga “arisan” buku. Diskusi yang terbuka untuk umum ini akan membahas sejauh mana tantangan dan solusi dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini hingga meneropong proyeksi buku cerita anak di masa mendatang.

Tokopedia