Kirab Malam Selikuran Keraton Solo, Yusril Ihza Mahendra di Kereta Kencana

Abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membawa nasi tumpeng saat kirab Malem Selikuran di Jl. Slamet Riyadi, Solo, Selasa (5/6 - 2018). (Solopos / Nicolous Irawan)
05 Juni 2018 23:49 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kirab tumpeng Sewu malam selikuran yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berlangsung khidmat, Selasa (5/6/2018) malam. Suara langkah prajurit diiringi drum band membuka kirab malam 21. Mereka disusul kerabat keraton dan para abdi dalem dengan membawa lampion dengan bertuliskan lafaz Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Sebagian abdi dalem menyunggi ancak cantaka sebagai wadah dari 1.000 nasi tumpeng. Di belakang pembawa tumpeng, terdapat iring-iringan abdi dalem yang membawa aneka lampion serta lampu ting sebagai salah satu simbol cahaya seribu bulan. Tak ketinggalan barisan abdi dalem yang membawa perangkat gamelan juga ditabuh. Tetabuhan gamelan ini seirama dengan lantunan salawat dengan diiringi rebana.

Politikus PBB Yusril Ihza Mahendra ikut dalam rombongan kirab. Yusril menggunakan kereta kencana bersama rombongan Sentana Dalem. Kirab dimulai sekitar pukul 20.00 WIB usai salat tarawih. Mengambil start di Keraton Surakarta, peserta kirab berjalan sejauh tiga kilometer dengan menyusuri jalan protokol menuju Joglo Sriwedari. Sepanjang rute itu warga terlihat berjajar menonton iring-iringan kirab. Tak hanya itu, para pengendara kendaraan baik roda dua maupun roda empat ikut mengabadikan tradisi yang sudah turun temurun ini.

Sesampai di Joglo Sriwedari, tumpeng diserahterimakan dari pihak Keraton kepada ulama untuk keperluan didoakan. Begitu selesai didoakan, nasi tumpeng dibagi-bagikan kepada warga yang dianggap oleh memiliki tuah. Hanya dalam hitungan menit, seribu nasi tumpeng itu pun ludes.

Malam 21 Ramadan adalah ketika turunnya Nabi Muhamad dari Jabal Nur setelah menerima wahyu Laitul Qodar. Yakni siapapun yang berbuat kebaikan pada hari itu akan mendapat ganjaran atau balasan yang baik bagi seribu bulan. “Sehingga kemudian dilambangkan dengan tumpeng sewu atau tumpeng yang jumlahnya seribu,” terang Pengageng Parentah Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, K.G.P.H. Dipokusumo atau akrab disapa Gusti Dipo.

Lebih lanjut Dipo mengatakan tumpeng sewu yang dibawa abdi dalem berasal dari berbagai daerah seperti Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten. Tumpeng itu berisi antara lain nasi gurih, kedelai hitam, mentimun, daging ayam kampung, dan lalapan lombok hijau. Tumpeng sewu kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir menyaksikan acara.

Tradisi kirab malam selikuran saat bulan Ramadan merupakan peninggalan para Walisongo di era Kerajaan Demak. Kemudian berlanjut saat zaman Mataram Pleret, Mataram Kartasura, dan Mataram Surakarta. Kirab dimaksudkan agar masyarakat umum menjadi tahu bahwa keraton tetap melaksanakan adat peninggalan nenek moyang.

Salah satu warga Laweyan, Fajar S. mengaku senang setelah mendapatkan rayahan dua nasi tumpeng yang dibungkus di dalam plastik. Bungkusan itu terdiri dari nasi gurih, telur puyuh, kedelai hitam, cabai hijau, mentimun dan lainnya. Dia berharap dengan menyantap nasi tersebut bisa diberi keselamatan, keberkahan, sehat dan umur panjang.‎ "Ya, kami percaya jika nasi ini berkahi," ucapnya.

Kirab malam selikuran ini merupakan kali kedua dilaksanakan Keraton secara berturut-turut. Sebelumnya kirab malam selikuran digelar kubu G.K.R. Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng sehari lebih awal dari malam selikuran versi Sinuhun Pakubuwana (PB) XIII Hangabehi pada Selasa (5/6) malam. Hanya perbedaannya, helatan malam selikuran tersebut diawali dengan kirab prajurit, abdi dalem, serta para sentana dalem (keluarga keraton) dengan berjalan dari Sithinggil menuju Masjid Agung Solo, melewati kawasan Baluwarti.

Tokopedia