Tiada Hari Tanpa Kegiatan Keagamaan di Kampung Ramadan Blindas Wonogiri

Pengendara melintas di Kampung Ramadan Blindas, Desa/Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, yang dihiasi lampion, Senin (4/6 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
07 Juni 2018 10:46 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Sepanjang jalan Dusun Blindas, Desa/Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, dihiasi umbul-umbul. Lampion dan lampu hias memayungi jalan di dekat Masjid Baiturrahim di tengah dusun.

Pagar batu dan buk jembatan dicat warna-warni memperindah pemandangan. Tulisan Kampung Ramadan Blindas terbuat dari sterofoam yang terpampang di sudut pertigaan dekat masjid memberi petunjuk di situ lah Kampung Ramadan  Blindas berada.

Sejumlah perempuan dewasa berbincang di balai dekat masjid. Mereka menyambut Solopos.com dengan ramah. Beberapa tikar tersusun rapi di sudut balai. Di tempat tersebut kegiatan-kegiatan selama Ramadan ini digelar.

Untuk kali pertama Blindas yang terdiri atas empat rukun tetangga dikonsep menjadi Kampung Ramadan. Di dusun itu tiada hari tanpa ada kegiatan Ramadan. Kegiatan dimulai sore menjelang berbuka puasa hingga malam hari. Pada hari tertentu digelar acara keagamaan yang skalanya lebih besar dari pada hari lainnya.

“Kalau sore dusun kami ramai sekali. Anak-anak hingga orang dewasa mengikuti kegiatan keagamaan hingga waktu berbuka puasa,” kata Ketua Panitia Kampung Ramadan Blindas, M. Kholil Khoirudin Sholeh, saat ditemui di dusun tersebut, Senin (4/6/2018).

Dia mengatakan Kampung Ramadan  terwujud karena warga sangat mendukung. Warga suka rela menyumbang dana membiayai semua kegiatan. Mereka juga suka rela membentuk kelompok juru masak yang membuat makanan untuk berbuka bersama setiap hari.

Setiap sore panitia menggelar pengajian hingga berbuka puasa. Dalam sepekan peserta pengajian menyantap hidangan berbuka dengan menu yang berbeda-beda. Menu itu seperti sayur asem, rames, soto, sayur lombok, tongseng, kare, gudeg, dan lainnya. Hidangan harian dimasak tiga juru masak.

“Setiap hari Salat Tarawih digelar dengan konsep ala Madinah. Surat yang dibaca sebanyak setengah juz/hari. Salat dengan 11 rekaat termasuk Witir. Alhamdulillah warga tetap antusias mengikuti,” kata Kholil.

Setiap malam Minggu, lanjut dia, digelar angkringan Ramadan. Panitia menyajikan hidangan ala warung hik untuk disajikan kepada warga saat digelar pengajian. Warga mengikuti pengajian bisa sambil menikmati hidangan kampung.

Warga luar Blindas pun turut mengikuti kegiatan-kegiatan di kampung itu. Menurut Kholil, panitia berencana menjadikan Kampung Ramadan sebagai agenda tahunan. “Ramadan tahun depan kami akan buat lebih semarak dengan menggelar kegiatan keagamaan yang lebih variatif,” ulas Kholil.

Camat Pracimantoro, Warsito, menyambut sangat baik dibuatnya Kampung Ramadan Blindas. Dengan dikonsep seperti itu warga dapat mengikuti kegiatan positif selama Ramadan. Dia berharap dusun-dusun lain bisa mencontoh.

“Watangrejo juga bikin Kampung Ramadan. Ini bisa menjadi tren positif untuk Pracimantoro,” kata dia.