1.500 Paket Sembako dari Presiden untuk Kaum Marginal Sragen

Kuli gendong Pasar Bunder Sragen antre pembagian paket sembako dari Presiden Jokowi di Pendapa Sumonegaran Rumdin Bupati Sragen, Jumat (8/6 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
09 Juni 2018 19:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengirim sekitar 1.500 paket bahan kebutuhan pokok (sembako) untuk dibagikan kepada kuli gendong di pasar, pengayuh becak, pedagang kaki lima, juru parkir dan petugas kebersihan kota di Sragen. Bantuan diserahkan kepada para penerima di halaman Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen, Jumat (8/6/2018).

Bantuan paket sembako dari Presiden Joko Widodo itu diserahkan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Para penerima yang sebelumnya sudah mendapat kupon bergiliran menukar kupon tersebut dengan sembako.

Tokopedia

Salah satu penerima, Ginem, 55, kuli gendong Pasar Bunder asal Jambanan, Sidoharjo, Sragen, tak sabar untuk menukar kertas berukuran 10 cm x 3 cm bertuliskan “Merajut 1.000 Senyum Ramadan, Bupati Sragen Berbagi” dengan paket sembako senilai Rp90.000 itu. Paket sembako tersebut terdiri atas beras seberat 5 kg, gula pasir 2 kg, minyak goreng 1 kg, dan teh.

Ginem ikut antre mengular bersama teman-temannya sesama buruh gendong, seperti Sumiyati, 41, asal Nglombo, Kedawung, dan Yatin, 70, asal Mantup, Sukodono. Selendang melingkar di pundaknya. Ia senang bisa bersalaman dengan Bupati dan Wabup.

Setelah menyerahkan kupon ke petugas, ia langsung mendapat paket sembako dalam tas putih. Pada tas itu bertuliskan “Bantuan Presiden Republik Indonesia.”

Ginem pulang dengan senang. Ia sudah menjadi kuli gendong di Pasar Bunder selama 20 tahun. Penghasilan hariannya hanya Rp20.000-Rp25.000/hari. Ia harus mengumpulkan uang selama empat hari baru bisa membeli sembako senilai paket sembako yang diserahkan Bupati Sragen hari.

“Alhamdulillah bisa dapat sembako. Hasil kerja saya seharian belum tentu dapat sembako sebanyak ini,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat siang.

Ia memiliki dua orang anak tetapi sudah berkeluarga. Kini ia harus menghidupi tiga orang lanjut usia, yakni orang tuanya yang berumur 90 tahun, kakaknya yang berumur 60 tahun dan 70 tahun. Ia bekerja sebagai kuli gendong hanya untuk menghidupi mereka bertiga.

Ia biasa berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB dengan jalan kaki menuju jalan besar. Jarak rumah ke jalan besar sepanjang 5 km. Dari pinggir jalan raya harus naik bus umum hingga turun di Pasar Bunder.

“Saya ke pendapa ini membonceng teman sesama kuli gendong. Iya, ini mau kembali ke pasar untuk bekerja. Pulangnya ya nanti sore,” ujarnya.

Cerita senada disampaikan Yatin yang sudah berusia lanjut. Perempuan tua asal Sukodono itu sudah 10 tahun bekerja sebagai kuli gendong di Pasar Bunder. Semua pekerjaan kasar yang menghasilan uang di Pasar Bunder dilakoninya, mulai dari angkut sayuran, angkut dagangan pembeli, dan seterusnya.

“Upahnya bervariasi, kadang Rp2.000 dan Rp5.000. Besar kecilnya upah tergantung berat ringannya barang yang digendong. Upah sehari mungkin belum bisa untuk beli paket sembako  ini. Saya senang bisa mendapat sembako,” tuturnya.

Pembagian sembako menjadi tradisi sejak Yuni menjabat Bupati Sragen. Menjelang Lebaran 2017, Yuni membagikan 1.200 paket sembako yang dananya bersumber dari RSI Amal Sehat Sragen. Pada menjelang Lebaran 2018, ia bersyukur ada uluran tangan dari Presiden Jokowi yang membantu 1.500 paket sembako.

“Saya minta beliau ternyata langsung diberi. Ini menunjukkan kedekatan dengan Presiden. Semoga bantuan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Bupati.