Awas Dinakali, Ini Batas Atas-Bawah Tarif Bus Angkutan Mudik!

Rombongan pejabat Pemprov Jateng mengecek armada mudik Lebaran di Terminal Tirtonadi Solo, Kamis (31/5 - 2018). (Solopos/Farida Trisnaningtyas)
11 Juni 2018 14:35 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pengelola Terminal Tipe A Tirtonadi Solo mengimbau para pemudik tidak segan-segan melaporkan pengemudi maupun kernet bus yang menarik tarif tak wajar selama masa angkutan mudik dan balik Lebaran 2018.

Koordinator Teminal Tipe A Tirtonadi, Joko Sutriyato, menegaskan para penumpang bus berhak menolak membayar tarif bus ekonomi yang dinilai tak wajar. Dia menerangkan indikasi tarif bus dikatakan tak wajar, yakni salah satunya naik hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.

Tokopedia

Joko menyebut tarif batas bawah dan batas atas bus antarkota  dalam provinsi (AKDP) kelas ekonomi dan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) kelas ekonomi telah ditentukan oleh pemerintah. Besaran tarif bus AKDP kelas ekonomi diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Jateng No. 2/2016 tentang Tiarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah Angkutan Penumpang Antakota dalam Provinsi Kelas Akonomi dengan Mobil Bus Umum di Provinsi Jawa Tengah.

Sementara tarif bus AKAP kelas ekonomi harus sesuai Permehub No. 36/2016 tentang Tarif Dasar, Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah Angkutan Penumpang Antarkota Antarprovinsi Kelas Ekonomi di Jalan dengan Mobil Bus Umum. Sesuai Pergub No. 2/2016, tarif batas atas bus AKDP ekonomi adalah Rp160 per penumpang per kilometer (km) dan tarif batas bawah Rp98 per penumpang per km.

Perhitungan akhir tarif tersebut kemudian ditambah iuran wajib dana kecelakaan penumpang dibulatkan ke atas sampai dengan kelipatan Rp100. Sementara itu, tarif batas atas bus AKAP kelas ekonomi di Jawa sesuai Permenhub No. 2/2016 mencapai Rp155 per penumpang ke km dan tarif batas bawahnya Rp95 per penumpang per km.

“Kenaikan tarif penumpang hampir selalu terjadi menjelang Lebaran maupun pascalebaran. Kami sudah meminta kepada para pengelola bus yang masuk ke Terminal Tirtonadi mesti menarik tarif wajar di mana jangan sampai melebihi tarif batas atas yang telah ditetapkan pemerintah,” kata Joko saat diwawancarai Solopos.com di Terminal Tipe A Tirtonadi, Senin (11/6/2018).

Joko menyampaikan masyarakat atau pemudik lah yang bakal dirugikan atas adanya kenaikan tarif penumpang tak wajar oleh sopir maupun pengelola bus saat memasuki musim mudik Lebaran ini. Untuk mengantisipasi ulah nakal sopir maupun pengelola bus, dia menganjurkan masyarakat mencari infomasi terlebih dahulu terkait besaran tarif bus normal sebelum melakukan perjalanan mudik.

Dengan demikian, para pemudik bisa menolak atau memilih layanan bus lain jika ternyata diminta membayar tarif terlalu tinggi. “Laporkan saja ke petugas kalau memang ada pengelola, agen-agen, maupun sopir bus yang nekat menarik tarif tak wajar. Di Terminal Tirtonadi  kami sudah membentuk tim khusus untuk memantau tarif penumpang saat arus mudik Lebaran ini. Setiap harinya hasil pantauan kami laporka ke BPTD Jateg & DIY. Jika ada yang curang bakal diberi sanksi pencabutan izin trayek,” terang Joko.

Pejabat Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kemenhub di Terminal Tipe A Tirtonadi, Sularjo, menyampaikan setiap harinya selama masa angkutan Lebaran, pengelola Terminal Tirtonadi mengerahkan petugas khusus untuk memantau besaran tarif bus. Selama pengecekan secara terbuka maupun tertutup pada Jumat-Minggu (8-10/6/2018), petugas khusus tersebut belum menemukan adanya penumpang yang diminta membayar tarif tak wajar.

Misalnya pada Minggu (10/6/2018), penumpang dari Cibinong tujuan Solo masih diminta membayar tarif normal senilai Rp330.000/penumpang, Jakarta-Solo Rp350.000/penumpang, Jogja-Solo Rp12.000/penumpang, dan Nganjuk-Solo Rp25.000/penumpang.