Jejak Ulama Perempuan di Kampung Religi Mangkunegaran Solo

Ahli waris Langgar Rowatib, Zakiah Salamun, di Kampung Kauman, Minggu (10/6 - 2018). (Solopos/Muhammad Ismail)
11 Juni 2018 20:15 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Arus lalu lintas (lalin) di Jl. S. Parman Solo mulai ramai dipadati kendaraan pemudik dari luar Kota Solo, Minggu (10/6/2018) pukul 16.15 WIB. Puluhan orang yang tergabung dalam Komunitas Solo Societeit berhenti di depan Pasar Legi tepatnya di Kampung Kauman, Kestalan, Banjarsari.

Mereka memandangi bangunan tuko cat ABC di seberang plakat Pasar Legi. Di situ mereka menjelajah sambil berdiskusi di kawasan bersejarah sekitar Mangkunegaran itu. Tema yang diangkat dalam diskusi ini adalah Ulama Perempuan di Mangkunegaran.

Di bangunan toko ABC dan beberapa bangunan ruko di sekitarnya diyakini merupakan tanah yang dahulu pernah di bangun masjid Kauman lama sebelum diboyong di sisi barat Pura Mangkunegaran yang sekarang menjadi Masjid Al-Wustho pada 1878.

Di kompleks Masjid Kauman lama diyakini terdapat rumah cucu dari Mangkunagoro I yang diangkat menjadi penghulu perempuan atau ulama perempuan saat Masjid Kauman berdiri megah di kawasan itu. Ulama perempuan itu bernama Raden Ayu Penghulu Iman.

Makam Raden Ayu berada di kaki Gunung Lawu sebelah timur Kecamatan Matesih, Karanganyar. Mangkunagoro I sangat konsen terhadap penyebaran agama Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh dinasti Mataram Islam di Jawa yang kemudian membuat Mangkunagoro I membuat Kampung Kauman.

Setelah Kampung Kauman, Mangkunagoro I membangun Masjid Kauman, mengangkat takmir masjid, dan ulama perempuan. Golongan elite religius ini memberi sumbangsih besar bagi birokrasi kerajaan kala. Kedekatan raja dengan para ulama menguatkan posisi raja sebagai penanggung jawab proyek islamisasi yang diwariskan Kerajaan Demak.

Kini kejayaan Kampung Kauman sebagai kawasan religi Mangkunegaran  mulai meredup. Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan Mangkunagoro IV yang memboyong Masjid Kauman lama ke sisi barat Pura Mangkunegara menjadi Masjid Al-Wustho. Sisa kejayaan bangunan Masjid Kauman lama kemudian dibersihkan oleh Mangkunagoro VII.

Bukti yang tersisa dari Masjid Kauman lama adalah empat makam kuno keluarga raja yang disemayamkan di pinggir Jl. Sutan Syahrir dekat dengan Rumah Deret Ketelan pinggir Sungai Pepe. Satu dari empat makam itu diketahui sebagai makam Raden Ayu [RA] Supartinah yang merupakan putri Mangkunagoro IV beserta anaknya. Makam tersebut berada di dalam rumah warga.

“Melihat sejarah Mataram Islam, fenomena makam di area masjid bukanlah hal aneh. Kita bisa lihat di Masjid Kota Gedhe, Masjid Demak, Masjid Agung, dan lainnya. Kami meyakini tak jauh dari empat makam kuno ini dulunya juga terdapat Masjid Kauman lama yang dibangun Mangkunagoro I,” ujar Ketua Komunitas Solo Societeit Dani Saptoni kepada Solopos.com, Minggu.

Dani mengungkapkan Kampung Kauman sebagai tempat berkumpulnya ulama menjadikan Masjid Kauman lama sebagai pusat penyebaran agama Islam. Namun, setelah masjid itu dipindahkan ke Al-Wustho, masyarakat Kampung Kauman sulit mencari masjid.

“Semua kegiatan keagamaan di Kampung Kauman menjadi menurun. Lokasi Masjid Al-Wustho sangat jauh dijangkau sehingga membuat warga meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam. Kami menemukan Langgar Al Rowatib di RW 001 Kestalan yang dibangun pada 1935. Langgar ini dibangun warga sebagai pengganti Masjid Kauman lama yang telah dipindahkan,” kata dia.

Ia menjelaskan Langgar Al Rowatib dibangun untuk mengembalikan Kampung Kauman sebagai kawasan religi Mangkunegaran. Tanpa ada tempat ibadah yang layak warga jauh dari aktivitas keagamaan.

Ahli waris lahan Langgar Rowatib, Zakiah Salamun, mengungkapkan langgar ini dibangun Muh. Habib yang tak lain adalah mertuanya. Dibangunnya langgar ini bermula dari keprihatinan Habib melihat banyak warga yang tidak salat setelah Masjid Kauman dipindah ke Al-Wustho. Tanah masjid sekarang sudah diwakafkan.

Wakil ketua Komunitas Solo Societeit Heri Priyatmoko menjelaskan ulama perempuan, Raden Ayu Penghulu Iman, yang diangkat Mangkunagoro I alias Penggeran Sambernyawa sangat tersohor di eranya. Bahkan Raden Ayu ini juga menjalin kerja sama dengan ulama lain di Soloraya di antaranya Kiai Kasan Nuriman di Wonogiri.

“Zaman Mangkunagoro I emansipasi wanita sudah diterapkan dengan mengangkat derajat Raden Ayu sebagai ulama perempuan. Bahkan Mangkunagoro I juga membentuk prajurit khusus perempuan yang jago menembak dan berkuda. Kami sangat terkesan dengan sikap Mangkunagoro I yang sangat memuliakan perempuan jauh sebelum R.A. Kartini,” ujar Heri.

Ia menjelaskan keberadaan ulama perempuan di Kampung Kauman diwariskan turun-menurun sampai Masjid Kauman dibedol ke Al-Wustho. Pemindahan masjid ini memutus regenerasi ulama perempuan dan menenggelamkan identitas Kauman sebagai kampung religi Mangkunegaran.