Warga Sragen Harus Uji Nyali Saat Lewat Jembatan Darurat Tanggan

Wagiman, 65, warga Tanggan, Gesi, Sragen, menuntun sepeda saat melewati tanjakan jembatan darurat di sebelah timur Jembatan Tanggan, Senin (11/6 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
11 Juni 2018 16:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Dua alat berat beroperasi di dasar jembatan Kali Tanggan. Jembatan  itu dibangun dengan dana APBD 2018 senilai Rp1.534.054.000. Untuk akses masyarakat, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen membangunkan jembatan darurat di samping timur proyek yang sedang dikerjakan CV Budhi Manunggal Sragen itu.

Jembatan darurat itu sesek bambu melintang sepanjang 6 meter dengan ketinggian 1-2 meter dari dasar jembatan. Untuk melewati jembatan harus menuruni jalan terjal dengan kemiringan lebih dari 45 derajat di sisi utara dan selatan.

Tokopedia

Jembatan darurat itu baru dibangun 2-3 hari lalu atas aspirasi masyarakat Tanggan yang disampaikan langsung kepada Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat kegiatan Asar Keliling (Sarling) di Kecamatan Gesi, Sragen, belum lama ini. Wagiman, 65, warga Tanggan, Gesi, Sragen, menuntun sepedanya di depan pintu jembatan darurat sisi utara.

Ia bermaksud menyeberangi jembatan darurat itu untuk pergi ke wilayah Sragen. Ia berhenti sejenak. Kedua sandalnya dilepas dan diletakkan di angsang boncengan belakang. Ia memilih menuruni jalan  urukan tanah padas itu bertelanjang kaki.

Selangkah demi selangkah sepeda ontel itu dituntun sembari kakinya menahan. Sesekali ia berhenti untuk menghela napas. Suara klakson motor terdengar dari belakang. Ia sedikit panik dan berusaha mempercepat langkah kakinya.

Setelah meninggalkan jembatan sesek, ia kembali mengeluarkan tenaga menaiki tebing yang sama curamnya dengan tebing yang menurun saat memasuki jembatan darurat itu. Napasnya tersengal. Solopos.com berusaha membantu mendorong sepedanya dari belakang untuk membantu meringankan beban Wagiman.

“Matur nuwun ya. Baru sekali ini melewati jembatan sesek,” ujar Wagiman seraya melanjutkan perjalanan.

Beberapa motor melintasi jembatan itu satu per satu karena jembatan itu tidak bisa untuk bersimpangan. Seorang perempuan di ujung utara harus berpikir sebelum menuruni jembatan itu. Setelah berhenti sejenak di depan pintu jembatan, akhirnya perempuan itu memilih berbalik dan mencari jalan alternatif lainnya.

“Bagi yang tidak punya nyali pasti tak berani melewati jembatan sesek itu,” celetuk Nahrowi, 52, warga Dukuh/Desa Tanggan, RT 021, Gesi, Sragen, yang setiap harinya melihat aktivitas di jembatan darurat itu saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (11/6/2018).

Nahrowi menilai jembatan itu tidak layak sebagai akses penduduk karena terlalu curam. Nahrowi sering melihat warga yang melintas menaiki motor nyaris jatuh saat melewati tanjakan dan turunan terjal itu.

Bagi Nahrowi, kondisi jembatan itu mestinya tidak curam seperti itu tetapi lebih landai sehingga tidak membuat pengguna jembatan  waswas. “Tak sedikit yang mau jatuh saat melewati tanjakan,” katanya.

Jumadi, 47, warga Gesi, Sragen, yang berbincang dengan Nahrowi menganggap Dinas PUPR kurang peka terhadap aspirasi warga. Dia ingat dua pekan lalu warga menyampaikan permintaan adanya jembatan darurat kepada Bupati dan langsung disetujui. “Tetapi realisasinya seperti ini. Ini jelas tidak layak dilewati dan berisiko,” ujarnya.