Didemo, OP Daging Ayam di Pasar Jongke Solo Kukut

Pedagang menunjukkan daging ayam yang tidak laku terjual akibat operasi pasar di Pasar Jongke, Pajang, Laweyan, Solo, Selasa (12/6 - 2018). (Solopos/Muhammad Ismail)
12 Juni 2018 14:25 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Belasan pedagang daging ayam di Pasar Jongke, Pajang, Laweyan, Solo, menggelar aksi demo di lokasi operasi pasar (OP) daging ayam di pasar itu, Selasa (12/6/2018). Gara-gara OP tersebut daging ayam yang mereka jual jadi tidak laku. OP digelar Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama pengusaha ayam potong.

Informasi dihimpun Solopos.com, belasan pedagang ayam di Pasar Jongke menggelar aksi demo di lokasi OP daging ayam pukul 08.45 WIB. Dalam aksi demo  tersebut pedagang menuntut agar OP segera dihentikan karena membuat daging ayam milik pedagang tidak laku terjual.

Demo berakhir sekitar pukul 09.00 WIB setelah petugas OP memenuhi tuntutan pedagang. Koordinator aksi demo, Suwanto, mengungkapkan OP daging ayam di Pasar Jongke selama dua hari Senin-Selasa (11-12/6/2018) digelar tanpa ada koordinasi dengan pedagang ayam.

Pedagang sudah terlanjur membeli ayam hidup seharga Rp28.000 per ekor. Kemudian pedagang mengeluarkan ongkos memotong ayam hingga membersihkan bulu ayam. Harga kulak daging ayam di pasar senilai Rp38.000 per kg.

“Pedagang menjual daging ayam ke konsumen senilai Rp40.000 per kg. Kami hanya untung Rp2.000 per ekor setiap menjual ayam. Sementara harga daging ayam di OP dijual Rp33.000 per kg,” ujar Suwanto kepada wartawan di Pasar Jongke, Selasa.

Suwanto menjelaskan akibat harga daging ayam di OP lebih murah menjadikan daging ayam milik pedagang tidak laku terjual. Konsumen lebih memilih membeli daging ayam di OP dibandingkan membeli daging ayam milik pedagang.

“Saya meminta Pemkot Solo agar menghentikan OP daging ayam di Pasar Jongke. Seharusnya Kemendag melakukan intervensi harga daging ayam kepada pengusaha pemotongan ayam dan peternakan,” kata dia.

Ia mengungkapan selama ini harga daging ayam mahal  karena pengusaha dan pemotogan ayam sudah mematok harga mahal. Pedagang membeli daging ayam sudah dalam kondisi mahal. Kemudian ayam dijual kembali ke konsumen dengan harga mahal.

Pedagang daging ayam, Titik, mengaku setiap hari mendapatkan pesanan dari pemilik warung makan dari Boyolali menyediakan daging ayam sebanyak 50 kg. Namun, tiba-tiba Selasa pagi pemilik warung makan itu membatalkan pesanan dan memilih membeli daging ayam di OP dengan alasan harganya lebih murah.

“Saya sudah telanjur kulak daging ayam sebanyak 50 kg dengan harga Rp40.000 per kg. Total uang yang telah dikeluarkan senilai Rp2 juta. Sekarang ayam hasil kulak ini untuk apa, tidak ada yang mau membeli,” kata Titik.

Ia menjelaskan nasib sama juga dialami pedagang ayam lainnya. Pedagang berharap OP dihentikan dan Kemendag harus bertanggung jawab dengan membeli daging ayam milik pedagang yang tidak laku terjual.

Petugas OP daging ayam di Pasar Jongke, Rio Kurnia, membenarkan adanya protes yang dilakukan belasan pedagang daging ayam di Pasar Jongke. Protes dipicu daging ayam milik pedagang tidak laku terjual.

“Saya terpaksa harus menutup OP lebih awal yakni pukul 10.00 WIB untuk menghindari konflik lebih besar. Seharusnya OP digelar sampai siang,” kata dia.

Ia menjelaskan OP yang digelar Selasa pagi membawa stok 800 kg daging ayam beku. Sebanyak 400 kg daging ayam laku terjual dengan harga Rp33.000 per kg.