Dilarang, PKL Uang Baru Masih Nekat di Solo

Penjaja jasa penukaran uang baru menunggu pembeli di Jl. Mayor Kusmanto, Solo, Kamis (24/5 - 2018). Mulai tahun ini Pemkot Solo memberlakukan aturan larangan menjajakan jasa penukaran uang baru di Kota Solo. (Solopos/Nicolous Irawan)
13 Juni 2018 07:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Pedagang Kaki Lima (PKL) jasa penukaran uang baru tetap menawarkan jasa di beberapa ruas jalan di Kota Solo. Meski pernah mendapatkan teguran dari Satpol PP, mereka nekat berjualan.

Salah satu penjaja jasa tukar uang baru yang tidak mau disebutkan namanya membuka lapak di depan Luwes Loji Wetan. Dia kini tak lagi menggunakan papan untuk menunjukkan identitas. Sementara beberapa bundel uang baru pecahan Rp10.000 senilai Rp100.000, dan pecahan Rp20.000 senilai Rp200.000 cukup dia pegang. Pedagang itu mengaku mengambil untung kurang dari 10% untuk setiap nominal yang ditukarkan.

“Tahun ini ada peringatan dari Satpol PP makanya tidak berani pakai papan,” katanya saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (11/6/2018) siang.

Kondisi ini membuat penghasilan PKL itu turun 50% daripada tahun lalu. Dia menambahkan meski ada peringatan, dirinya tetap tak mengindahkan. Momen tahunan ini menjadi saat-saat mendulang rezeki lebih ketimbang pekerjaan sehari-hari yaitu menjadi buruh harian lepas.

“Lagi pula ini tidak mengganggu lalu lintas,” ucapnya.

Dia menilai keberadaan PKL uang justru menguntungkan bagi masyarakat. Menurutnya tak semua orang sempat mengantre di bank untuk memperoleh uang baru.

Penjaja jasa tukar uang lainnya, Siti, mengaku memasang papan mulai sepuluh hari menjelang Lebaran 2018. Siti yang biasa mangkal di Jl. Mayor Kusmanto depan Telkom Solo ini mengaku awalnya tak berani memasang papan.

“Ada peringatan dari Satpol PP, tapi sepuluh hari terakhir mulai melunak jadi berani pakai papan lagi,” ucapnya.

Berdasarkan pantuan Solopos.com di sepanjang jalan tersebut Senin siang, terdapat tiga PKL uang yang kini berani memasang papan jualan. Siti yang sudah 15 tahun menjadi PKL jasa penukaran uang ini mengaku sebelumnya dia tak leluasa berjualan.

Salah satu pengendara motor yang kebetulan melintas di depan Luwes Loji Wetan, Harno, mengaku terbantu dengan adanya jasa tukar uang di pinggir jalan. “Lebih praktis dan tarifnya tidak mahal,” katanya.

Selain itu, dia memilih menukarkan uang di pinggir jalan karena tak sempat mengantre di bank. Harno juga tak ketakutan akan beredarnya uang palsu karena saat transaksi dia akan mengecek uang tersebut di hadapan PKL. “Jadi kalau kurang atau tidak asli bisa langsung ketahuan,” ujarnya.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP, Agus Sis Wuryanto, saat dihubungi Solopos.com menyatakan pihaknya masih membina PKL uang yang nekat berjualan. “Nanti kami bawa ke kantor dan beri pembinaan,” katanya.

Namun jumlah PKL yang tidak pasti menyulitkan Satpol PP untuk menertibkan para PKL tersebut. Agus mengatakan meskipun PKL itu hanya bertujuan meraup rezeki musiman, namun tetap saja cara berjualan dan tempat berjualan yang salah tidak bisa dibenarkan. “Misal ada uang palsu atau kekurangan bagaimana. Hal begitu bisa masuk ranah pidana yang nantinya ditanggung PKL sendiri,” katanya.