Pasar Kota Sragen Diserbu Pengunjung, Lalu Lintas Padat Merayap

Lalu lintas di depan Pasar Kota Sragen padat merayap karena pasar tersebut dijejali pengunjung, Rabu (13/6 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
13 Juni 2018 16:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Sragen diserbu warga menjelang Lebaran. Mereka membeli kebutuhan Lebaran, terutama pakaian dan perhiasan. Dari sekian banyak pusat perbelanjaan, Pasar Kota Sragen di pinggir jalan protokol Kota Sragen terlihat paling ramai.

Arus lalu lintas di depan pasar tersebut padat merayap. Lalu lintas lainnya yang cukup padat terlihat di seputaran Pasar Bunder Sragen, depan Toserba Luwes Sragen, depan Toserba Matahari, dan depan Toserba Mitra. Kendati lalu lintas padat tetapi tidak sampai terjadi kemacetan.

Suara imbauan kepada pedagang dan pembeli agar berhati-hati terhadap ancaman kejahatan selalu didengungkan petugas keamanan (satpam) Pasar Kota sejam sekali. Imbauan itu agar hati-hati terhadap uang palsu, penipuan, sampai pada praktik gendam.

“Beberapa hari lalu sempat ada nenek-nenek yang menjadi korban gendam setelah membeli perabot rumah tangga di Pasar Kota ini. Katanya hanya ditepuk punggungnya, uang senilai Rp400.000 milik nenek-nenek itu langsung begitu saja amblas dibawa kabur pelaku gendam. Peristiwa itu sempat dilaporkan ke pos satpam tetapi saat dicari pelakunya sudah kabur,” ujar Ketua Kerukunan Pedagang Pasar Kota Sragen (KPPKS), Mario, saat berbincang dengan Solopos.com di kiosnya, Rabu (13/6/2018).

Sejak peristiwa itu, Mario meminta petugas satpam terus menyerukan imbauan lewat pengeras suara setiap satu jam. Mario tidak ingin pedagang dan pembeli yang datang menjadi korban kejahatan orang tak bertanggung jawab.

Selama ini yang kadang meresahkan pedagang itu, kata dia, adalah para pengamen yang memanfaatkan momentum keramaian pasar untuk mengais rupiah. Selama pengamen tidak memaksa, Mario tak jadi soal.

Peningkatan keramaian Pasar Kota Sragen terjadi sejak Minggu (10/6/2018) lalu. Barang yang diburu pembeli berupa pakaian dan perhiasan. Jumlah pembeli yang datang menjelang Lebaran bisa dikatakan meningkat dua kali lipat. Peningkatan jumlah pengunjung tersebut hampir terjadi setiap menjelang Lebaran.

Indah, 36, pedagang pakaian asal Mojomulyo, Sragen Kulon, Sragen, mengaku omzetnya meningkat sampai 100% menjelang Lebaran. Pada hari biasa, Indah hanya bisa mengumpulkan omzet Rp600.000-Rp1 juta per hari. Sekarang, ia bisa mendapatkan omzet sampai Rp2 juta per hari.

“Peningkatajn omzet itu terjadi sejak lima tahun terakhir. Sebelumnya peningkatan omzetnya bisa berlipat-lipat dan bisa diandalkan untuk Lebaran,” tambahnya.

Suyatmi, pemilik toko emas Ragil, mengaku peningkatan pengunjungnya sampai 100%. Para pengunjung yang datang ke toko emasnya lebih banyak yang beli perhiasan daripada jual perhiasan.

“Mereka memilih harga Rp300.000 per gram. Mereka jarang yang membeli emas tua. Peningkatan pengunjung itu memang terjadi setiap menjelang Lebaran,” ujarnya.

Pemilik Toko Mas Ragil Baru, Aris Setyawati, mengatakan peningkatan pengunjung itu disebabkan momentum Lebaran yang bersamaan dengan panen raya padi. “Kalau tidak bersamaan dengan panen padi, peningkatannya paling hanya 50%. Ketika dua momentum itu bertemu maka kenaikannya bisa sampai 100%. Yang diminati perhiasan berharga Rp200.000-Rp300.000 per gram. Jenis perhiasannya bermacam-macam, seperti kalung, gelang, cincin, dan anting,” tuturnya.