Berkah Lebaran Bakul Lauk Pauk Sragen, Omzet Naik 5 Kali Lipat

Anak bungsu Mbak Rajak, Warlan, 53 (kiri), sibuk meladeni pembeli lauk-pauk kuliner khas Sragen menjelang Lebaran, Rabu (13/6 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
13 Juni 2018 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Aneka lauk pauk tersaji di meja berukuran 2 meter x 6 meter di salah satu kios Pasar Kota Sragen. Belasan pembeli berdiri seperti membuat pagar betis menghadap sajian lauk pauk tersebut. Mereka menunggu antrean membeli lauk pauk itu.

Para pembeli hilir mudik berdiri di gang sempit yang menghubungkan antarkios di pasar yang terletak di jantung Kota Sragen. Warung sederhana itu dikenal dengan nama Warung Mbah Rajak. Warung ini dirintis Mbah Rajak sejak 1945.

Tokopedia

Mbah Rajak sudah meninggal dunia pada 40 hari yang lalu. Usaha itu dilanjutkan ketiga anaknya yang dikoordinasi Warlan, 53. Warlan merupakan anak bungsu Mbah Rajak.

Lauk pauk yang dijual bermacam-macam, mulai dari ayam terik, tahu tempe bacem, krasikan, wajik, jadah, jenang dodol, dan aneka makanan ringan. Kasikan, wajik, jadah, dan jenang dodol biasanya menjadi oleh-oleh khas Sragen bagi pemudik yang hendak kembali ke perantauan.

Sementara ayam terik dan tahu tempe bacem menjadi klangenan para pemudik yang pulang ke Sragen. “Kepalane pinten? Nyuwun sekawan mawon. Kalih tahu tempe baceme. [Kepalanya berapa? Minta empat saja sama tahu tempe bacemnya],” ujar Juminem, 43, pelanggan setia asal Dukuh Kemangi, Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung, Sragen.

Juminem biasa beli tahu dan tempe bacem setiap berkunjung ke Pasar Kota Sragen. Kebiasaan itu sudah dilakoninya selama bertahun-tahun.

Warlan duduk di samping Dewi. Sepasang suami istri itu nyaris tak pernah istirahat karena harus meladeni pembeli. Ia duduk di dingklik kayu kecil sejak buka pada pukul 07.00 WIB. Kendati laki-laki, Warlan tak kalah gesit dengan istrinya saat membungkus lauk.

Hal itu sudah menjadi kebiasaannya setiap hari. Warung itu baru tutup pada pukul 16.00 WIB. Permintaan pembeli menjelang Lebaran meningkat pesat. Pada hari biasa, Warlan hanya bisa menghabiskan 35-40 ekor ayam tetapi menjelang Lebaran Warlan mampu menghabiskan 170 ekor ayam.

Kenaikannya hampir lima kali lipat. “Omzet biasanya hanya Rp5 juta per hari. Sekarang bisa lima kali lipat,” ujarnya sambil berbisik supaya tak kedengaran pelanggannya. Artinya, dalam sehari Warlan bisa menghasilkan omzet Rp25 juta.

Warlan bersyukur bisa mendapatkan harga ayam murah di saat harga daging ayam potong melambung tinggi sampai Rp45.000/kg. Karena langganan lama, Warlan bisa mendapat harga Rp42.000/kg. “Hari-hari menjelang Lebaran ini banyak pemudik yang mampir. Sebenarnya saya enggak hafal orangnya. Biasanya mereka ngomong sendiri kalau baru pulang dari perantauan dan kangen dengan masakan Mbak Rajak,” tuturnya.