Inspiratif, Polisi Ini Sukses Pelopori Budidaya Bawang Merah di Wonogiri

Bripka Sigit Purwoko menunjukkan bibit bawang merah hasil panennya di rumahnya, Ngrandu, Ngadirejo, Eromoko, Wonogiri, Jumat (8/6 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
13 Juni 2018 13:35 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Sigit Purwoko sudah menjadi polisi sejak 2004. Kini di usianya yang baru 34 tahun, Sigit menjabat Kepala Unit (Kanit) Intelijen Polsek Eromoko, Wonogiri. Namun, bukan itu saja kesibukan polisi berpangkat brigadir polisi kepala (bripka) ini.

Bapak dua anak ini juga merupakan petani yang sukses bahkan menjadi panutan di lingkungan tempat tinggalnya di Ngrandu, Ngadirejo, Eromoko. Jenis tanaman yang dikembangkan oleh Sigit adalah bawang merah.

Atas pengabdiannya di dunia pertanian di dusunnya, para petani mempercayai bapak dua anak itu menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani (Poktan) Randu Padi. Berkat kesuksesannya pula, Sigit digandeng Dinas Pertanian dan Pangan Wonogiri  untuk mengembangkan bawang merah di Kota Sukses sejak 2013 lalu.

Tahun ini dia diberi tanggung jawab mengadakan 32 ton bibit bawang merah bima brebes yang merupakan varietas unggul untuk dikembangkan di lahan seluas 50 hektare (ha) di tujuh kecamatan. Program pemerintah pusat itu menyasar Kismantoro, Slogohimo, Girimarto, Jatipurno, Wuryantoro, Giriwoyo, dan Eromoko.

Saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Jumat (8/6/2018) lalu, Sigit menceritakan sejak kecil dia dibesarkan orang tuanya yang menggantungkan hidup dari bertani. Mencangkul di sawah sudah menjadi rutinitasnya.

Dari kebiasaannya itu dia mendapat banyak ilmu tentang pertanian. Saat itu dia bercita-cita mengembangkan pertanian. Namun, Tuhan mempunyai rencana lain. Dia justru terdorong menjadi polisi.

Setelah menjadi polisi, keinginan terjun di dunia pertanian kembali menggebu. Cita-cita polisi kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, itu direalisasikannya pada 2010 atau enam tahun setelah menikah dan tinggal di Ngrandu. Pilihannya jatuh pada bawang merah.

“Saat itu saya lihat Wonogiri  hanya menjadi pasar terakhir distribusi bawang merah dari daerah penghasil, seperti Brebes dan Purwodadi. Alhasil, bawang merah di Wonogiri harganya lebih tinggi daripada daerah lain. Lalu saya berpikir untuk menjadikan Wonogiri sebagai daerah penghasil,” kata Sigit.

Sebagai awalan dia menanam bawang merah di lahan yang disewanya seluas 2.000 m2. Uji coba itu berhasil. Sejak saat itu dia terus menanam bawang merah dan hasilnya selalu memuaskan. Kini Sigit mengembangkan bawang merah di lahan 2 ha.

Seiring berjalannya waktu petani mulai mengikuti jejaknya menanam bawang merah. Banyak petani yang sebelumnya menanam padi kini beralih menanam bawang merah. Luas tanam bawang merah di Ngadirejo saat ini mencapai lebih dari 10 ha dengan produksi lebih kurang 120 ton/panen.

Sigit dan para petani sejak beberapa tahun juga mengembangkan bibit bawang merah varietas bima brebes. Menurut Sigit, saat ini kebutuhan bibit bawang merah di Wonogiri sudah dapat dipenuhi sendiri.

“Hasil dari menanam bawang merah jauh lebih menguntungkan daripada padi. Kalau dihitung sederhana, biaya produksi di lahan 1 ha lebih kurang Rp60 juta. Saat harga dari petani bagus, Rp20.000/kg-Rp25.000/kg, bisa untung Rp140 juta-Rp160 juta,” ulas Sigit.

Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede, selalu mendukung anggotanya yang mengembangkan potensi diri selama tugas pokoknya sebagai polisi sudah dipenuhi. Dia berharap Sigit dapat menginspirasi polisi lainnya.

Menurut Kapolres, sudah selayaknya polisi dapat menggali potensi diri maupun lingkungan sekitarnya agar dapat lebih bermanfaat untuk masyarakat. Dengan begitu Polri akan lebih dicintai masyarakat.