Pulutan Kulon Wonogiri Rintis Desa Wisata Seribu Keris

Kades Pulutan Kulon, Wuryantoro, Wonogiri, Sulistyo Wibowo (kanan) menunjukkan keris Naga Siluman yang bisa berdiri di meja di rumahnya Kedung Pelem RT 002 - RW 004, Pulutan Kulon, Wuryantoro, Wonogiri. Foto diambil 2017. (Solopos/Rudi Hartono)
14 Juni 2018 04:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI--Atmo Sentono perlahan mengusap keris miliknya menggunakan kapas di rumahnya di Kedung Pelem RT 002/RW 004, Pulutan Kulon, Wuryantoro, Wonogiri, akhir pekan lalu. Keris itu peninggalan keluarganya secara turun temurun.

Lelaki 69 tahun tersebut menyimpannya sejak 18 tahun lalu. Dia membersihkannya setahun sekali saat malam Sura. Seiring berjalannya waktu ada beberapa warga yang menyerahkan keris kepadanya karena tak bisa merawat. Saat ini dia menyimpan belasan bilah keris dan pedang kuno.

Atmo merupakan salah satu warga desa yang masih bersedia menyimpan dan merawat keris peninggalan orang-orang terdahulu. Ada ratusan warga Pulutan Kulon yang menyimpan keris atau benda kuno lainnya, seperti tombak, pedang, kujang, cundrik atau senjata yang pada zaman dahulu diperuntukkan bagi perempuan, dan lumpang.

Seluruh benda-benda itu diyakini dibuat pada zaman kerajaan di Jawa. Namun, banyak warga menganggap produk budaya itu sebagai barang tak berharga, sehingga enggan merawat. Bahkan, tak sedikit yang menjual dengan harga rendah senilai barang rongsok.

Pemerintah Desa (Pemdes) Pulutan Kulon kemudian berupaya menyadarkan warga agar lebih menghargai benda kuno yang sebenarnya bernilai budaya dan ekonomi tinggi. Seiring berjalannya waktu warga mulai sadar dan bersedia merawat sendiri keris-keris peninggalan keluarga masing-masing.

Kepala Desa (Kades) Pulutan Kulon, Wuryantoro, Sulistyo Wibowo, mengatakan desanya saat ini dikenal sebagai desa seribu keris. Julukan itu beralasan karena jumlah keris yang disimpan warga mencapai lebih dari 1.000 bilah. Penduduk desa tercatat 1.863 keluarga yang mendiami 11 dusun. Warga masing-masing dusun diperkirakan menyimpan ratusan keris. Setiap keluarga setidaknya menyimpan dua bilah. Bahkan, ada keluarga yang memiliki lebih dari lima bilah. Ada keris Kyai Sengkelat dari zaman Kerajaan Mataram, ada juga keris dari zaman Kerajaan Majapahit.

“Ini potensi yang bisa dikembangkan. Ke depan kami akan menjadikan Pulutan Kulon sebagai desa wisata budaya. Pengunjung dapat melihat keris sepuasnya yang akan kami letakkan di tempat khusus di setiap balai dusun,” ulas Kades.