Panti Rehabilitasi Mental Jati Adulam Manistry Solo Butuh Bantuan

Ketua Pengurus Panti Jati Adulam Manistry, Robert Nadeak, 44, memainkan gitar untuk para penghuni panti setempat beberapa waktu lalu. (Istimewa/Panti Jati Adulam Manistry)
15 Juni 2018 04:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Pengelola panti rehabilitasi  mental Jati Adulam Manistry di RT 003/RW 011 Kelurahan Joyosuran, Pasar Kliwon, Solo masih kerap mengalami kesulitan dana untuk mencukupi kebutuhan operasional panti. Terbaru, panti tersebut membutuhkan bantuan dana untuk keperluan perpanjangan kontrak gedung yang selama ini dimanfaatkan untuk menampung puluhan penyandang ganggunan jiwa.

Kepala Pengurus Panti Jati Adulam Manistry, Robert Nadeak, 44, mengatakan pengelola Panti Jati Adulam Manistry selama ini mengandalkan uang maupun barang sumbangan dari sejumlah pihak untuk mencukupi operasional panti. Maka dari itu, pengelola panti tak bisa menjamin ketersediaan dana untuk operasional.

“Saat ini kami butuh dana untuk perpanjangan kontrakan. Dana yang sudah terkumpul baru Rp8 juta. Masih kurang Rp4 juta lagi,” kata Robert saat diwawancarai Solopos.com, Senin (4/6/2018).

Robert menyampaikan pengurus panti bahkan beberapa kali harus berutang kepada sejumlah pihak demi mencukupi kebutuhan operasional panti. Dia menuturkan, sejak pindah ke Joyosuran pada 2015 lalu, pengelola panti belum juga mendapat bantuan dana operasional dari pemerintah. Bantuan yang datang dari pemerintah baru sekadar peralatan seperti kursi roda. Robert berharap pemerintah bisa membantu panti dengan memberikan stimulus dana operasional yang bisa dipakai untuk membeli bahan pangan hingga membayar sewa gedung.

“Bantuan dana selama ini baru kami peroleh dari perorangan, kelompok, jemaat, dan gereja. Orang muslim dan dari masjid juga ada,” jelas Robert.

Robert menceritakan Panti Jati Adulam Manistry kini menampung 40 penyandang gangguan jiwa  atau mental yang berasal dari berbagai daerah bukan hanya Solo. Pengelola menerima orang-orang tersebut dari hasil penjaringan di jalanan. Beberapa penghuni bahkan datang karena sengaja dititipkan oleh pihak keluarga. Dia menyebut, pengelola panti sedikitnya membutuhkan dana sekitar Rp8 juta/bulan untuk mencukupi kebutuhan operasional panti dengan jumlah penghuni sebanyak itu.

"Sebulan kami bisa habis uang Rp7 juta-Rp8 juta untuk memberi makan dan minum penghuni, membayar listrik dan air, termasuk membeli berbagai kebutuhan lain,” terang Robert.

Pengelola Panti Jati Adulam Manistry memandang para pengidap gangguan jiwa adalah orang yang terpinggirkan. Mereka bergerak karena merasa prihatin ternyata ada banyak keluarga atau lingkungan masyarakat yang enggan melayani mereka. Seakan-akan para pengidap gangguan mental adalah orang yang terbuang. Padahal, menurut dia, para pengidap gangguan jiwa atau mental tersebut lebih butuh dilayani dan dijaga.

Diwawancarai terpisah, Ketua RT 003/RW 011 Joyosuran, Surono, prihatin dengan kondisi Panti Jati Adulam Manistry yang menempati gedung seadanya di wilayah RT 003/RW 011 Joyosuran. Karena merasa prihatin, dia akhirnya juga terlibat menjadi sukarelawan di panti. Dia membeberkan pengurus kini begitu membutuhkan bantuan dari pihah luar. Surono menyampaikan, bantuan yang dibutuhan bukan saja dalam bentu uang, tapi juga barang-barang seperti celana kolor, kaus, baju, pasta gigi, sabun, sikat gigi, dan lain sebagainya.

Sebagai informasi, Panti Jati Adulam Manistry berdiri pada 2007. Panti tersebut sebelumnya berada di Desa Masan, Bendosari, Sukoharjo. Namun karena ditolak warga setempat dengan beragam alasan, panti tersebut akhirnya pindah ke Joyosuran. Panti berkesempatan menggunakan bangunan di ke RT 003/RW 011 Joyosuran mulai awal Desember 2015.