Berdesakan demi Berebut Gunungan Grebeg Pasa Keraton Solo

Warga memperebutkan gunungan jaler di kompleks Masjid Agung Solo setelah acara Hajad Dalem Grebeg Pasa 1951 Dal. (Solopos/Nadia Lutfiana Mawarni)
17 Juni 2018 22:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Prihatin, 68, sudah sejak pagi menunggu di pelataran Masjid Agung Keraton Solo, Sabtu (16/6/2018). Tubuhnya yang mulai renta tak menjadi penghalang untuk berdiri di bawah terik matahari menanti dua gunungan yang akan diarak keluar dari kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dalam acara Hajad Dalem Grebeg Pasa 1951 Dal.

Bersama Prihatin, puluhan orang lain yang jauh lebih muda juga ikut berdesakan. "Supaya angsal keberkahan [supaya mendapatkan keberkahan]," ucap Prihatin.

Sudah tak terhitung berapa kali dalam hidupnya Prihatin mengikuti tradisi ini. Dia tak pernah melewatkannya tiap tahun.

"Dulu biasanya pas bakda [Lebaran] kalau sekarang-sekarang mundur satu hari," ucapnya.

Sebelum gunungan keluar dari kompleks Keraton menjelang siang, Abdul Karim, anggota Bergada Sorogeni yang berseragam merah bersama puluhan abdi dalem lain mengawalinya dengan ritual Caos Dahar. Mereka menyiapkan sesaji dan membarenginya dengan doa memohon keselamatan.

Selain Bergada Sorogeni, dalam barisan itu terdapat Bergada Jayeng Astra berseragam biru, Bergada Prawira Anom berbalut busana hijau, serta pasukan darat yang mengenakan pakaian hitam.

Gunungan diangkat oleh barisan abdi dalem keluar Keraton Solo melewati Alun-alun Utara menuju Masjid Agung Solo. Abdi dalem itu berjalan di belakang para prajurit. Gunungan estri (perempuan) berada di depan gunungan jaler (laki-laki).

Sepanjang jalan, ratusan masyarakat dan wisatawan berdiri bak pagar betis. Gunungan estri itu berisi jajanan matang seperti rengginang dan jajan pasar. Sementara gunungan jaler berisi hasil-hasil bumi seperti kacang panjang, wortel, kentang, dan telur.

Sesampai di Masjid Agung Solo, gunungan diturunkan. Utusan Dalem S.I.K.S Pakubuwono XIII menyerahkan gunungan-gunungan itu kepada Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta, Muhammad Muhtarom dalam jumenengan. Kerabat keraton duduk melingkar di serambi masjid mendengarkan Muhtarom membacakan doa dalam bahasa Arab dan Jawa. Tak berselang lama setelah kata amin gunungan jaler diperebutkan.

Muhtarom menyatakan gunungan jaler dan estri itu melambangkan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan. "Laki-laki itu tugasnya memberi penghidupan untuk keluarganya lewat hasil bumi, sementara perempuan itu harus bisa mengolah hasil bumi menjadi sesuatu yang bisa dimakan dan makan," ungkapnya di sela-sela acara.

Sebelumnya Keraton Kasunanan Surakarta membagikan 1,4 ton zakat fitrah kepada warga Kota Bengawan, Rabu (13/6/2018).