Telat Bayar Tagihan Mei, Pelanggan PDAM Sukoharjo Tak Didenda

ilustrasi air PDAM. (Solopos/Dok)
17 Juni 2018 18:30 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Manajemen PDAM Tirta Makmur Sukoharjo tidak akan memberi sanksi denda bagi pelanggan air  yang telat membayar tagihan air bulan Mei ini yang dibayar Juni. Tagihan air mestinya dibayar paling lambat tanggal 20 setiap bulan berikutnya.

Namun karena bulan ini tanggal 20 masih cuti bersama Lebaran, PDAM membebaskan para pelanggan yang telat membayar tagihan air bulan Mei dari sanksi denda. Hal ini diungkapkan Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Makmur Sukoharjo, M. Mahfud Faozi, kepada Solopos.com, Minggu (17/6/2018).

Para pegawai negeri sipil (PNS) dan pekerja kantoran masih menikmati cuti bersama Lebaran hingga 20 Juni. Mereka kembali bekerja mulai 21 Juni. “Kami memberikan kelonggaran kepada para pelanggan ihwal pembayaran tagihan air Mei. Kebijakan ini hanya berlaku pada Juni,” kata dia, Minggu.

Biasanya, para pelanggan membayar tagihan air di loket pembayaran di kantor cabang atau secara online. Apabila mereka terlambat membayar tagihan air bakal diberi sanksi denda Rp5.000.

Faozi tak mempermasalahkan apabila ada pelanggan yang membayar tagihan air pada akhir Juni. “Ini juga bagian dari peningkatan kualitas pelayanan terhadap pelanggan. Para pelanggan masih menikmati cuti bersama Lebaran sehingga tak mungkin membayar tagihan listrik,” ujar dia.

Faozi menjelaskan tingkat konsumsi air bersih selama Lebaran di wilayah perdesaan meningkat sekitar 20 persen. Kondisi ini dipengaruhi banyaknya perantau yang mudik  ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.

Lonjakan konsumsi air terjadi di wilayah Sukoharjo bagian selatan seperti Nguter, Bulu, Weru, dan Tawangsari. Sebagian besar masyarakat di wilayah itu mengadu peruntungan nasib di Jakarta dan sekitarnya lalu pulang saat Lebaran. “Jumlah pengguna air bersih di setiap pelanggan rumah tangga bertambah. Otomatis konsumsi air juga meningkat signifikan,” papar Faozi.

Kondisi ini berbanding terbalik di wilayah perkotaan seperti Kartasura, Grogol, atau Sukoharjo Kota. Tingkat konsumsi air bersih selama Lebaran justru turun sekitar lima persen. Sebagian besar warga perkotaan pulang ke kampung halaman atau berkunjung ke rumah kerabat selama beberapa hari.

Sementara itu, seorang pelanggan air bersih asal Desa/Kecamatan Nguter, Tomi, mengatakan penggunaan air bersih  selama libur Lebaran meningkat dibanding hari biasa. Masyarakat perdesaan mempunyai tradisi mencuci berbagai perabotan rumah tangga seperti meja, kursi hingga lemari pada sebelum Lebaran.

Saat para perantau tiba di kampung halaman, mereka mencuci mobil hampir setiap hari. “Keran air kamar mandi selalu dibuka setiap pagi hari dan sore hari. Anggota keluarga harus mengantre untuk mandi,” kata dia.