Kisah Inspiratif Pemuda Wonogiri Bikin Wayang Beber dari Daluang

Faris Wibisono sedang menyungging wayang beber dengan media daluang di kediamannya Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri beberapa waktu lalu. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
19 Juni 2018 05:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI-- Tangan Faris Wibisono, 26, bergerak perlahan menyungging tokoh pewayangan. Ia merupakan seorang penyungging wayang beber asal Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Wayang beber yang biasanya dibuat dari media kulit atau kanvas, justru ia buat menggunakan media daluang.

Daluang adalah kertas tradisional Indonesia yang terbuat dari bahan lembaran kulit kayu pohon paper mulberry (Broussonetia papyryfera Vent) atau dalam bahasa sunda disebut pohon saeh. Pembuatan kertas ini dilakukan dengan cara ditumbuk, diperam, dan dijemur di terik matahari dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana.

Daluang sebagai bagian dari tradisi tulis di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14. Sejak zaman dulu, daluang digunakan sebagai bahan wayang beber, salah satu jenis wayang di Jawa yang memanfaatkan lembaran atau gulungan daluang untuk merekam kisah atau cerita pewayangan dalam bentuk bahasa gambar.

Selanjutnya daluang digunakan dalam berbagai tradisi tulis di Indonesia, mulai dari tradisi pesantren sampai dengan pemanfaatan untuk keperluan administrasi di zaman kolonial hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Faris berjuang keras mencoba kembali menggunakan daluang sebagai media seninya. Dimulai dengan belajar mengenal daluang hingga ke Jawa Barat. Hal itu ia lakukan untuk melestarikan kertas tradisional tersebut. Tahun 2016 ia mulai menanam pohon daluang di desanya dan tersebar di Kabupaten Wonogiri.

Perjuangannya tidak mudah. Dalam proses dari penanaman hingga dapat digunakan sebagai media pembuatan wayang beber memerlukan waktu 1-2 tahun. Ia tak patah semangat. Menurutnya, pembuatan wayang beber dengan media daluang menjadikan karya buatannya lebih eksklusif.

Tak hanya itu, ia mengajarkan kepada pemuda desanya hingga luar Kabupaten Wonogiri untuk belajar memanfaatkan dan melestarikan daluang sebagai warisan leluhur. Ia mengajarkan tentang cara menanam hingga proses pengolahan daluang sampai dapat dimanfaatkan.

“Daluang sangat berpotensi untuk dikembangkan, nilai wayang beber yang dibuat dengan media daluang terangkat tinggi. Namun, masyarakat kini kurang mengetahui apa itu daluang. Sebagai wujud sosialisasi mengenai daluang, saya titipkan pohon-pohon daluang ke masyarakat desa,”ujar Faris Wibisono yang saat ini juga menulis dengan media daluang untuk Perpustakaan Nasional, saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Pracimantoro, beberapa waktu lalu.

Kini ratusan karyanya dengan memanfaatkan daluang telah menghasilkan nominal yang menggiurkan. Daluang berukuran 30 x 30 cm yang digambar dijual dengan harga sekitar Rp1,5 juta.

Ia berharap masyarakat Desa Sedayu khususnya dan seluruh masyarakat untuk melestarikan daluang karena daluang merupakan sebuah warisan leluhur yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Menurutnya, saat ini yang secara khusus memanfaatkan daluang sebagai media wayang beber hanya berada di Desa Sedayu, Pracimantoro.