2 Bos Pabrik Pil PCC Gilingan Solo Divonis 10 Tahun Penjara

Ilustrasi vonis majelis hakim. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
24 Juni 2018 09:35 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Solo menjatuhkan vonis masing-masing 10 tahun penjara untuk dua terdakwa otak pembuatan dan peredaran pil paracetamol caffein carisoprodol (PCC) di Gilingan, Banjarsari, Solo, Wildan dan Sri Anggono. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Solo yakni 14 tahun penjara.

Pantauan Solopos.com, Majelis Hakim memisahkan sidang kasus tujuh tersangka kasus pil PCC menjadi tiga. Perkara pertama dengan terdakwa utama Wildan yang berperan sebagai penggerak produksi atau General Manager (GM) dan merekrut karyawan. Berkas perkara kedua dengan tersangka Sri Anggono berperan sebagai penghubung jaringan Solo dengan Semarang, sebagai donatur, serta pemasaran produk.

Kemudian berkas terakhir dengan lima tersangka yakni Suwandi, Masyanto, Heri Dwi Manto, Jaja Isworo, dan Susilo. Kelimanya karyawan pabrik pil PCC.

Wildan dan Sri Anggono divonis hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp800juta subsider tiga bulan penjara. Kemudian lima terdakwa lainnya yakni Suwandi, Masyanto, Heri Dwi Manto, Jaja Isworo, dan Susilo divonis enam tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider tiga bulan kurungan. Vonis ini juga lebih rendah dari tuntutan JPU yakni 10 tahun penjara.

Ketujuh terdakwa dijerat Pasal 197 ayat (1) UU No. 36/2009 tengan Kesehatan Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun dan denda senilai Rp1,5 miliar.

“Terdakwa Wildan dan Anggono terbukti bersalah menggedarkan dan membuat pil PCC yang diketahui masuk kategori obat terlarang. Kami memberikan vonis ini berdasarkan bukti fakta di dalam persidangan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Krosbin Lomban G., di hadapan para terdakwa dalam sidang lanjutan dengan agenda pembacaan vonis di PN Solo, Jumat (22/6/2018) sore.

Krosbin mengungkapkan apa yang dilakukan terdakwa dinilai telah meresahkan masyarakat. Selain itu, keberadaan pil PCC bertentangan dengan UU tentang Kesehatan yang jelas malarang peredaran pil tersebut. Terkait dengan vonis yang dijatuhkan, kedua terdakwa pikir-pikir seusai berkonsultasi dengan kuasa hukum mereka.

“Saya memilih pikir-pikir terlebih dulu setelah menerima vonis ini,” ujar Anggono dan Wildan di hadapan Majelis Hakim PN Solo.

Hal senada dilakukan lima terdakwa lainnya yang memilih pikir-pikir terkait vonis dari Majelis Hakim PN Solo. Terpisah, JPU Kejari Solo, Ardhias, mengatakan tim JPU dalam kasus ini juga mengambil langkah pikir-pikir karena vonis tujuh terdakwa lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU.

Kasus ini terungkap saat Badan Narkotika  Nasional Provinsi (BNNP) Jateng menggerebek pabrik PCC di Jl. Setiya Budi, Kampung Cinderejo Lor, Gilingan, Banjarsari, Solo, 3 Desember 2017 lalu. BNNP Jateng mengamankan 3 juta pil siap edar, bahan mentah pembuatan pil PCC, serta alat pembuat pil PCC. Dari penggerebekan itu, BNNP bersama Polda Jateng menangkap tujuh orang di tiga lokasi Tasikmalaya, Semarang, dan Solo.