Solo Zoo Bakal Jadi Terbaik se-Asia Tenggara

Taman Lampion dan Taman Pelangi di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Solo. (Solopos/Nicolous Irawan)
27 Juni 2018 07:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang kini akrab disebut Solo Zoo diyakini bakal menjadi kebun binatan terbaik se-Asia Tenggara setelah dilakukan revitalisasi.

Direktur Utama Solo Zoo, Bimo Wahyu Widodo, mengatakan grand design revitalisasi Solo Zoo kini sudah selesai dibuat. Grand design tersebut dibikin tidak tanggung-tanggung yakni oleh tim perwakilan dari perhimpunan kebun binatang se-Indonesia (PKBSI), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanaan (KLHK), dan Seaza atau perhimpunan kebun binatang se-Asia Tenggara.

Jika mengacu pada desain itu, Solo Zoo secara garis besar akan disulap menjadi kebun binatang yang lebih modern yang juga dilengkapi dengan Rumah Sakit Hewan. Terkait jadwal pelaksanaan revitalsiasi tersebut, dia belum bisa memastikan. Pasalnya, Solo Zoo mesti mengumpulkan dana terlebih dahulu hingga mencapai Rp165 miliar.

“Solo Zoo akan dibuat menjadi destinasi wisata baru dan rujukan dalam dunia flora dan fauna. Termasuk nanti dikonsep ada rumah sakit hewan yang bisa dijadikan rujukan di Jateng,” jelas Bimo dalam Pertemuan Forum Komunikasi Pegiat Pariwisata Solo membahas tema Sinergitas Promosi Antarstakeholder Pariwisata di Sunan Hotel Solo, Selasa (26/6/2018).

Bimo mengatakan Solo Zoo tentu dalam waktu dekat belum bisa mandiri menyediakan anggaran untuk agenda revitalsiasi menyesiakan grand design yang ada. Solo Zoo mesti mengandalkan bantuan dana dari luar, bisa lewat pemanfaataan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN), hibah, maupun program corporate social responsibility (CSR). Dia memastikan dengan aturan baru, Solo Zoo kini bisa menerima dana dari luar. Bimo menyampaikan Solo Zoo sementara baru merima bantuan dana dari KLHK senilai Rp2,28 miliar, yakni Rp180 juta pada tahun lalu dan Rp2,1 miliar pada tahun ini untuk keperluan perbaikan sarana kebun binatang.

“Perda kami baru jadi bisa masuk CSR, hibah, maupun APBN. Jadi sebenarnya Taman Satwa Taru Jurug sekarang mau dikeroyok bisa, paying hukumnya sudah ada. Jadi nanti Solo Zoo lengkap. Area konservasinya ada, komersialnya taman pelangi, lalu dua hektar lahan yang masih tersisa masih bisa dikembangkan lagi,” jelas Bimo.