Anggaran Seleksi Perdes Sragen Cekak Bikin Pemdes Pusing

Ilustrasi perangkat desa. (Solopos/Dok)
28 Juni 2018 19:15 WIB Kurniawan Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sejumlah pemerintah desa (pemdes) di Sragen yang akan menggelar seleksi perangkat desa (perdes) tahun ini merasa khawatir menyusul minimnya anggaran pelaksanaan rekrutmen perdes.

Seperti disampaikan Kepala Desa (Kades) Bagor, Miri, Kukuh Riyanto, saat diwawancarai Solopos.com melalui telepon seluler (ponsel), Kamis (28/6/2018). Menurut dia, anggaran yang ada tinggal Rp25 juta.

Anggaran itu akan digunakan untuk membayar honor panitia seleksi tingkat desa dan rekanan (pihak ketiga) dari perguruan tinggi yang akan menyelenggarakan tes (ujian) seleksi para calon perdes.

Informasi sementara yang diperoleh Kukuh, pihak ketiga memasang tarif Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per peserta ujian. Biaya tersebut harus ditanggung pemerintah desa dari alokasi dana desa (ADD) dan PAD.

Padahal diperkirakan ada 12-an pendaftar dari lima lowongan perdes yang dibuka di Bagor. Artinya untuk biaya ujian seleksi bagi 12 orang dibutuhkan anggaran sekitar Rp18 juta hingga Rp24 juta.

"Kami buka lima lowongan. Saat ini memang baru sedikit yang mendaftar. Tapi informasi yang saya bisa ada 12 orang yang sudah mengurus berkas persyaratan," ujar dia.

Kukuh mengatakan hingga Kamis belum mendapat rekanan dari perguruan tinggi yang akan digandeng untuk menyelenggarakan tes/ujian. Dia berharap dalam waktu dekat bisa mendapat rekanan.

"Ada enam rekanan yang direkomendasikan Pemkab Sragen. Kami sedang cari yang termurah karena anggarannya tinggal Rp25 juta. Dulu Rp30 juta. Tapi yang Rp5 juta sudah dipakai untuk mutasi perdes," urai dia.

Penuturan senada disampaikan Kades Gawan, Tanon, Sutrisno. Menurut dia, memang ada beberapa desa yang kebingungan ihwal proses kerja sama dengan perguruan tinggi sebagai pelaksana tes.

"Semua baru penjajakan karena hubungannya dengan biaya. Apalagi jumlah pendaftar cukup banyak. Ada satu lowongan yang dilamar enam orang. Padahal masa pendaftaran masih lama," tutur dia.

Bahkan di Kecamatan Tanon ada satu lowongan yang dilamar 12 orang. Padahal pihak ketiga dari perguruan tinggi mematok tarif biaya per peserta seleksi sehingga akan memberatkan keuangan desa.

Sutrisno menjelaskan bila biaya yang dipatok pihak ketiga kurang dari Rp1 juta akan sangat membantu meringankan beban pemerintah desa. Tapi pada kenyataannya beberapa pihak ketiga memasang tarif lebih dari Rp1 juta per peserta.

"Normatifnya, bila pemerintah desa punya kemampuan di bawah Rp1 juta per peserta sudah lumayan meringankan. Kami memang tidak dibolehkan minta sumbangan kepada pihak lain," sambung Sutrisno.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 192 desa dari total 196 desa di Kabupaten Sragen secara serentak membuka pendaftaran seleksi 560 calon perangkat desa (perdes) berbagai posisi. Pendaftaran dibuka Selasa (26/6/2018) lalu hingga 3 Juli mendatang.



Tokopedia