Sisa Kebakaran Pabrik Gurawan Solo Ancam Keselamatan Warga

Sisa-sisa kebakaran di rumah milik Mulyadi di dekat pabrik printing di Kampung Gurawan, Pasar Kliwon, Jumat (29/6 - 2018). (Solopos/Muhammad Ismail)
29 Juni 2018 13:15 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Warga Kampung Gurawan RT 003/RW 007, Kelurahan Pasar Kliwon, Pasar Kliwon, Solo, meminta kepada pihak terkait segera merobohkan sisa bangunan pabrik printing yang terbakar  pada Rabu (27/6/2018) lalu karena membahayakan keselamatan warga.

Sementara itu, untuk meringankan beban korban kebakaran, pengurus RT setempat membuat dapur umum. “Lokasi kebakaran masih dipasangi garis polisi. Kepolisian belum selesai melakukan penyelidikan untuk mencari penyebab kebakaran. Kami juga menutup akses jalan kampung menuju ke lokasi kejadian agar tidak dijadikan tontotan warga,” ujar Sekretaris RT 003 Hengki Abdulah saat ditemui Solopos.com di lokasi kebakaran, Jumat (29/6/2018).

Hengki mengungkapkan tembok bangunan bekas pabrik printing sepanjang 40 meter yang terbakar pada Rabu menempel langsung dengan tembok rumah warga. Saat terjadi kebakaran, tujuh rumah warga  yang ikut terbakar berada di belakang pabrik.

“Satu dari enam enam rumah yang terbakar mengalami rusak parah dengan tingkat kerusakan mencapai 80%. Rumah itu milik Mulyadi. Kami sudah melakukan inventarisasi kerusakan bersama BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah] Solo dan Dinas Damkar,” kata dia.

Ia menjelaskan saat melakukan pengecekan, warga menemukan tembok serta pilar bangunan yang rawan roboh dan dapat mengancam keselamatan warga. Warga berharap Pemkot Solo segera merobohkan bangunan sisa kebakaran yang menempel rumah warga. Bahkan tembok bangunan pabrik sisa kebakaran banyak yang retak dan miring posisinya.

“Tembok bangunan sisa kebakaran tingginya mencapai 2 meter. Saya khawatir kalau ada angin kencang tembok itu roboh dan mengenai rumah warga di sekitar lokasi pabrik,” kata dia.

Tujuh warga yang rumahnya terbakar, lanjut dia, mengharapkan ada bantuan dari Pemkot. Pengurus RT juga berharap ada niat baik dari pemilik pabrik ikut bertanggung jawab membantu memperbaiki rumah warga yang terbakar.

“Warga swadaya membersihkan sisa kebakaran dan membangun dapur umum. Karena lokasi kejadian masih dipasangi garis polisi pemilik rumah tidak boleh membersihkan rumah. Kami berharap penyelidikan kasus kebakaran  segera selesai sehingga warga bisa membersihkan rumahnya,” kata dia.

Ia menambahkan rumah yang ditempati Mulyadi merupakan rumah deret yang dibangun RT pada 2002 dengan dana kas RT. Rumah yang tidak ada sertifikatnya itu kemudian disewa Mulyadi senilai Rp60.000 per bulan dengan ukuran rumah 2,5 meter x 11 meter.

Sementara itu, Mulyadi mengatakan rumah deret yang dia sewa ditempati enam keluarga. Kebakaran Rabu kemarin menghanguskan semua dokumen penting seperti ijazah milik dua anak, Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Tanda Penduduk (KTP), buku tabungan, dan kartu Program Keluarga Harapaan (PKH).

“Saya sudah menghitung kerugian akibat kebakaran senilai Rp35 juta. Keempat anak saya kalau malam tidur di tempat tetangga,” ujar Mulyadi warga Klaten kepada Solopos.com, Jumat.