Pilgub Jateng 2018: Partisipasi Pemilih Sragen Naik 13,38%, Golput Turun

Dua orang petugas KPU Sragen masih sibuk memilah data hasil pemungutan suara Pilgub Jateng 2018 dari PPK di Aula Lantai II KPU Sragen, Kamis (28/6 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
29 Juni 2018 09:30 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Angka partisipasi pemilih pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah (Pilgub Jateng) 2018 berdasarkan perhitungan sementara real account yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen meningkat 13,38% bila dibandingkan pada partisipasi Pilgub Jateng 2013 dan naik 2,89% dengan Pilgub Jateng 2008. Peningkatan partisipasi pemilih tersebut berbanding terbalik dengan angka golongan putih (golput) yang menurun pada Pilgub Jateng 2018.

Angka golput pada Pilgub Jateng 2018 berdasarkan real account KPU Sragen mencapai 34,57% atau 263.925 pemilih. Data tersebut hampir sama dengan hasil real account yang dilakukan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sragen sebesar 34,48% atau 263.219 pemilih. Angka golput tersebut menurun bila dibandingkan pada Pilgub Jateng 2013 yang persentase golputnya 47,95% dan Pilgub Jateng 2008 yang angka golputnya 37,46%.

Komisioner KPU Sragen Ibnu Prakosa saat ditemui Solopos.com, Kamis (28/6/2018), mengatakan tingkat partisipasi pemilih pemilihan kepala daerah (pilkada) secara nasional 77%.

Dia menyatakan angka partisipasi pemilih Pilgub Jateng 2018 di Sragen masih di bawah target nasional, yakni 65,43%. Angka partisipasi tersebut meningkat signifikan sampai 13% bila dibandingkan pada Pilgub Jateng 2013 lalu yang hanya 52,05%.

“Peningkatan partisipasi pemilih ini dimungkinkan karena setiap partai politik menjadikan Pilgub Jateng 2018 sebagai pemanasan pertarungan untuk menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti. Di sisi lain, sosialisasi yang dilakukan KPU sudah maksimal sampai ke basis rukun tetangga (RT) dan komunitas masyarakat akar rumput. Kami juga jemput bola saat proses pemungutan suara dengan mendatangi pemilih,” ujarnya.

Di sisi lain, kesadaran para pemilih pemula untuk menggunakan hak suara juga berpengaruh pada peningkatan partisipasi pemilih. Ibnu menyampaikan kendati angka golputnya turun tetapi jumlahnya masih relatif banyak. Dia menduga masih tingginya jumlah golput disebabkan banyak kaum boro yang enggan bertahan sampai pencoblosan setelah mudik saat momentum Lebaran 2018.

Sementara itu, Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Sragen, Heru Cahyono, melihat masih tingginya golput itu dipengaruhi oleh sistem administrasi kependudukan (adminduk) yang belum bisa mengakomodasi pemilih dan ditemukan indikasi pemilih ganda. Dia menyebut kasus yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Sragen yang mengakibatkan 54 warga binaan tidak bisa menggunakan hak pilihnya pada Pilgub tahun ini disebabkan karena lemahnya fasilitasi dalam sistem adminduk.

“Selain itu masih ada pemilih yang mendapat dobel C6. Bahkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pun mendapatkan dua C6 di lokasi yang berbeda. Kemudian golput itu bisa terjadi karena faktor kesengajaan karena masyarakat apatis terhadap calon pemimpin. Kemudian model koalisi partai yang tidak linier dari pusat ke bawah juga berpangaruh pada kurangnya gerak mesin partai politik untuk menggerakan pemilih,” tuturnya.