UM Desa Sidoguro Klaten Urus Perizinan

Direktur BUM Desa Sidoguro, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Arif Hidayat, menunjukkan mesin pengolah air minum, Sabtu (23/6 - 2018). BUM Desa Sidoguro memiliki unit usaha pengolahan air minum sejak 2015. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
30 Juni 2018 01:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN--Badan Usaha Milik (BUM) Desa  Sidoguro, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Klaten mengembangkan unit usaha air minum dalam kemasan. Pengembangan itu berawal dari program air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).

Direktur BUM Desa Sidoguro, Arif Hidayat, mengatakan unit usaha air minum dalam kemasan dimulai sejak 2015 silam. Saat itu, program pamsimas sudah dibangun di tiga wilayah dengan jumlah sambungan rumah mencapai 1.200-an sambungan.

“Per sambungan rumah tarif dasarnya Rp5.000. Sementara, perhitungan setiap meter kubik yang dialirkan terhitung termurah di Klaten saat ini sekitar Rp800. Sebelumnya Rp600,” kata Arif saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (23/6/2018).

Dari pendapatan yang diperoleh melalui pamsimas, sebagian dana digunakan untuk mengembangan unit usaha air minum dalam kemasan. Dana itu salah satunya untuk pembelian mesin reserve osmosis (RO). Sementara, air berasal dari Sendang Bulus.

Kapasitas mesin pengolah air minum mampu mengisi 150 galon air ukuran 19 liter dalam sehari. Saat ini, unit usaha mampu menyalurkan air minum dengan merek Gua Tirta 20-30 galon per hari. Pengisian satu galon air dipatok harga Rp10.000. Selain dalam bentuk galon, BUM desa juga mengembangkan air minum dalam kemasan dalam bentuk gelas serta botol. Satu kardus berisi 48 gelas air minum Gua Tirta dihargai Rp19.500.

Namun, produksi air minum itu selama ini hanya terbatas bagi warga Desa Jimbung. “Kalau ada warga luar yang pesan kami buatkan. Kami belum bisa produksi massal karena masih proses untuk perizinan. Yang penting, air hasil produksi layak dikonsumsi masyarakat,” urai dia.

BUM Desa Sidoguro berencana memperbanyak produksi air minum dalam kemasan tersebut setelah proses perizinan kelar serta mendapatkan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Guna mengurus perizinan dan lisensi, BUM desa bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja melalui program pengabdian masyarakat.

“Kalau sudah ada izin dan SNI sudah dapat, rencana kami memang dipasarkan secara luas seperti di Kulonprogo. Mudah-mudahan 2019 sudah bisa,” ungkapnya.

Selain unit usaha air minum, salah satu unit usaha yang dikembangkan BUM Desa Sidoguro yakni Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Unit usaha itu mulai 2018 mengelola pasar malam saban pekan Syawalan digelar. Selain itu, Pokdarwis bakal mengelola objek wisata yang mulai digarap di Tebing Gebyok. Lantaran berada di tepi jalan, kawasan tebing bakal dikembangkan menjadi rest area serta wisata edukasi.

“Nanti ada permainana anak sekaligus mengenalkan dolanan tradisional. Saat ini masih dalam penataan,” katanya.

Ketua Pokdarwis Desa Jimbung, Dedi Widyatmoko, mengatakan pokdarwis juga mulai menggarap tradisi yang digelar saban Syawalan, yakni mengarak gunungan berisi ketupat hingga diperebutkan oleh warga. “Tradisi itu awalnya berasal dari Jimbung. Kami akan gelar secara rutin sekaligus melestarikan tradisi yang sudah ada secara turun temurun di desa kami,” katanya.