CFD Solo Libur, PKL Nekat Berjualan

PKL tetap buka lapak di city walk Jl. Slamet Riyadi kawasan Sriwedari Solo meski CFD diliburkan pada Minggu (1/7 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
01 Juli 2018 19:30 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) nekat berjualan di city walk Jl. Slamet Riyadi meski kegiatan car free day (CFD) sedang diliburkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pada Minggu (1/7/2018) pagi.

Seorang PKL, Muhammad Abdul Hanif, 33, mengaku nekat berjualan di city walk Jl. Slamet Riyadi dekat Plasa Sriwedari pada Minggu karena terdesak kebutuhan hidup sehari-hari. Laki-laki asal Salatiga yang tinggal mengontrak di kamar indekos wilayah Pasar Kliwon, Solo, tersebut meyakini dagangannya bakal lebih laris jika dijual di area CFD meski kegiatan itu tengah diliburkan.

Dia mengaku sempat dilarang berjualan petugas Dinas Perdagangan (Disdag) Solo tapi pada akhirnya diperbolehkan setelah berulang kali memohon tidak dipindah. "Sebenarnya saya sudah tahu masa libur CFD diperpanjang hingga 1 Juli ini. Tapi saya nekat saja datang sekarang. Peliburan CFD selama tiga pekan terakhir saya anggap sudah terlalu lama. Jadi sekarang saya harus jualan. CFD ini kan jadi tempat andalan. Dagangan PKL  hampir pasti akan laris jika dijual di area CFD," kata Abdul saat ditemui Solopos.com di city walk Jl. Slamet Riyadi, Minggu pagi.

Abdul menceritakan saat CFD diliburkan, dirinya berjualan cilok berkeliling dari kampung ke kampung pada Minggu pagi. Namun, hasilnya tak sebagus saat berjualan di area CFD. Selain pendapatan, Abdul juga merasa diuntungkan dari segi tenaga dan biaya operasional jika boleh berjualan di area CFD.

Dia tak perlu lagi keliling dan keluar ongkos untuk beli bensin karena berjualan menetap di area CFD. Dia berharap Pemkot pada pekan depan bisa mulai kembali menggelar kegiatan CFD di Jl. Slamet Riyadi.

"Kenyataannya masih ada cukup banyak masyarakat yang beraktivitas di city walk Jl. Slamet Riyadi meski CFD tengah diliburkan. Jadi dagangan saya juga lumayan laris. Bisa dibayangkan kan. Kalau CFD ada, dagangan saya pasti lebih laris lagi. Harapan saya tentu dalam waktu dekat CFD bisa kembali digelar. Untuk ke depannya saya memohon Pemkot tak meliburkan CFD terlalu lama," jelas Abdul yang mengaku tahu CFD libur dari pemberitaan koran.

PKL lain, Heri Sunaryo, 46, menyesalkan kebijakan Pemkot yang memperpanjang masa libur CFD hingga 1 Juli ini. Dia menilai jangka waktu peliburan CFD selama empat pekan tersebut jelas terlalu lama. Heri berharap Pemkot Solo tak lagi meliburkan CFD terlalu lama karena sangat berpengaruh pada pendapatan dan kehidupan para PKL yang rutin berjualan di sana.

Dia menilai agak berlebihan jika Pemkot meliburkan CFD kali ini dengan alasan khawatir area CFD dijadikan ajang kegiatan politik. Menurut Heri, Satpol PP Solo selama ini dikenal tegas ketika bertugas di area CFD Jl. Slamet Riyadi.

"Saya beberapa kali melihat petugas Satpol PP mengusir sejumlah orang yang terindikasi akan melakukan kegiatan kampanye politik. Kemudian soal PGOT juga mereka sangat tegas. Jadi saya rasa mereka bisa juga mengantisipasi adanya kegiatan politik yang mungkin bakal terjadi di area CFD pascapemilihan Gubernur Jateng kemarin," pendapat Heri yang juga nekat berjualan padahal sudah tahu adanya kebijakan peliburan CFD pada 1 Juli.

Seorang warga asal Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Anggita Nuraeni, 20, merasa kecele ketika mendatangi Jl. Slamet Riyadi, Minggu pagi. Dia tak mengetahui CFD diliburkan. Anggi mengira CFD hanya diliburkan sampai 24 Juni lalu untuk memperlancar arus mudik dan balik Lebaran 2018.

Tapi, dia tak terlalu kecewa adanya peliburan CFD kali ini. Anggi masih bisa berolahraga di city walk Jl. Slamet Riyadi. Dia juga masih bisa menemukan PKL yang menjual makanan berat maupun ringan.