Asale Watu Gilang Wonogiri, Patokan Atur Strategi Melawan Belanda

Prasasti Nglaroh, Watu Gilang, di Ngusun Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, merupakan tempat cikal bakal Kabupaten Wonogiri. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman.)
01 Juli 2018 15:30 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Prasasti Nglaroh, Watu Gilang, yang berada di Dusun Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, merupakan tempat bersejarah bagi warga Kabupaten Wonogiri. Tempat ini merupakan cikal bakal berdirinya Kabupaten Wonogiri.

Menurut Mulyadi, 72, mantan Kepala Desa Pule, saat ditemui solopos.com di kediamannya di Dusun Krompokan, Desa Pule, Jumat (22/6/2018), mengatakan Watu Gilang dulunya merupakan tempat mengatur strategi Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said Mangkunegara I.

Watu Gilang merupakan sebuah batu dengan lubang-lubang kecil yang digunakan sebagai patokan untuk mengatur strategi perang melawan Belanda.

Mulanya, Raden Mas Said bersama pamannya Ki Wiradiwangsa dan Raden Sutawijaya melakukan perjalanan untuk keluar dari kraton dan mencari wilayah baru akibat konflik dengan sang raja. Raden Mas Said bersama pengikutnya tiba di suatu daerah untuk menghimpun kekuatan dan mendirikan pemerintahan baru.

Tempat perundingan ini terjadi di Dusun Nglaroh pada Rabu Kliwon, 3 Rabiul Awal tahun 1666 Jimakir, Windu Sengara, Candra Sengkala Rasa Retu Ngoyak Jagad atau pada tanggal 19 Mei 1741 yang kini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Wonogiri.

Di tempat ini Raden Mas Said bersama pengikutnya serta dukungan masyarakat Nglaroh menggunakan Watu Gilang untuk mengatur strategi perang untuk menentukan hari secara hitungan jawa yakni Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Raden Mas Said membentuk Punggowo Baku Kawandoso Joyo bersama pengikut setianya di tempat ini.

Dalam perjuangannya Raden Mas Said berikrar yakni Pamoring Kawula Gusti sebagai pengikat batin pemimpin dengan rakyatnya yakni Ti Ji Ti Beh, Mati Siji Mati Kabeh dan Mukti Siji Mukti Kabeh. Raden Mas Said juga mencetuskan Tri Darma yakni Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrukebi.

“Dulunya saat saya menjabat sebagai Kepala Desa sekitar tahun 1986, Watu Gilang setengah tubuhnya terpendam dan sering untuk bermain anak-anak, karena memiliki nilai sejarah maka Pemerintah Kabupaten Wonogiri kala itu dipimpin oleh Bupati Oemarsono memindahkan Watu Gilang tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan proses pemindahan Watu Gilang bukan hal yang mudah. Berulang kali pemindahan dilakukan beberapa orang tapi tidak kuat untuk memindahkan. 

"Akhirnya dengan izin Allah, Watu Gilang dapat dipindahkan," kata dia. Hingga sekarang ini telah empat kali dilakukan perluasan lahan Prasasti Nglaroh, Watu Gilang.