Bukan Hewan Dilindungi, Kera Ekor Panjang Boleh Diburu

Sri Munarsih, warga Sidoharjo, Wonogiri, menjaga ladang sayuran dari serangan monyet ekor panjang dengan senjata ketapel, beberapa waktu lalu. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
01 Juli 2018 23:30 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah menegaskan kera ekor panjang atau macaca fascicularis bukanlah hewan yang dilindungi berdasarkan undang-undang. Oleh karena itu masyarakat diperbolehkan memburu hewan primata tersebut untuk melindungi keselamatan diri.

Hal itu dikatakan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah, Suharman, menanggapi maraknya invasi kera ekor panjang ke permukiman penduduk saat kemarau di Wonogiri  dan sejumlah daerah lain di Soloraya. Dihubungi Solopos.com, Sabtu (30/6/2018), Suharman mengatakan salah satu faktor penyebab kera ekor panjang turun mencuri tanaman bahkan masuk ke dalam rumah warga antara lain karena warga yang memberi makan monyet-monyet itu.

“Jangan pernah memberi makan monyet biarkan monyet mencapai keseimbangannya sendiri di alam. Apabila jumlah monyet kebanyakan biarkan bertahan hidup sendiri. Apabila diberi makan akan menimbulkan ketergatungan dan riskan terjadi konflik dengan manusia. Jangan pernah kasihan, biarkan monyet ekor panjang bertahan hidup secara alami,”ujarnya.

Ia menambahkan habitat kera ekor panjang yang rusak dan terusik, makanan di habitat berkurang, juga menyebabkan mereka turun mencari makan hingga ke pemukiman warga. Selain itu, koloni monyet yang terus bertambah juga memicu monyet mencari wilayah baru.

Kondisi cuaca yang panas dan sedang musim kemarau membuat monyet ekor panjang pergi mencari air minum. Menurutnya, pada habitat aslinya monyet sebenarnya tidak suka bersingunggan dengan manusia. Proses yang membentuk monyet menjadi dekat dengan manusia misalnya saat mereka menjadi tontonan di tempat wisata.

Ia menambahkan berbeda dengan lutung atau owa jawa, monyet  ekor panjang bukan hewan yang dilindungi. Ia mempersilakan masyarakat untuk mempertahankan diri menjaga lingkungan dengan cara apa pun termasuk dengan memburu kera ekor panjang jika dirasa sudah mengganggu.

Dari sisi undang-undang dan aturan negara, masyarakat diperbolehkan memburu monyet ekor panjang, terlebih predator monyet di Wonogiri hampir sudah tidak ada. Apabila masyarakat terkena cakaran atau gigitan monyet segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit karena dikhawatirkan terpapar penyakit yang dibawa monyet liar seperti rabies dan penyakit lainnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, saat ditemui Solopos.com, beberapa waktu lalu, mengatakan delapan dari 25 kecamatan di Wonogiri tergolong rawan serangan monyet ekor panjang saat musim kemarau. Kecamatan tersebut antara lain Wonogiri, Eromoko, Selogiri, Manyaran, Nguntoronadi, Wuryantoro, Ngadirojo, dan Jatisrono.

Ia menambahkan musim kemarau di Wonogiri akan berjalan lama yakni tujuh bulan dimulai pada April. Ia mengimbau masyarakat dan petani di wilayah rawan tersebut berhati-hati.



Tokopedia