9 Kendaraan Kawal Perjalanan Tabung Wet Scrubber PT RUM Sukoharjo

Kepala DLH Sukoharjo, Djoko Sutarto (kanan) menunjukkan proses penanganan limbah di Pabrik PT RUM Sukoharjo, Senin (5/2 - 2018). (Solopos/Trianto Hery Suryono)
02 Juli 2018 06:30 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Nguter, Sukoharjo, memasang mesin Wet Scrubber yang tiba di pabrik tersebut setelah diangkut dari pelabuhan Semarang. Mesin pengolah limbah itu langsung dipasang sejak tiba di pabrik pada Jumat (29/6/2018).

Pengangkutan tabung tersebut dilakukan malam hari agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Ada tiga tabung berdiameter 5,1 meter dengan total perjalanan selama 7-8 hari. “Jumat [29/6/2018] alat tiba di pabrik dan sehari setelah datang langsung bisa dipasang. Semua ada tiga tabung raksasa dan diangkut satu per satu tidak beriringan. Total waktu pengiriman tujuh hari hingga delapan hari,” jelas juru bicara PT RUM Sukoharjo, Bintoro Dibyoseputro, kepada Solopos.com, Sabtu (30/6/2018).

Bintoro bercerita pengiriman tabung dimulai pada 27 Juni lalu. Selama perjalanan ada sembilan kendaraan pengawal terdiri atas masing-masing dua kendaraan untuk supervisor, patroli jalan raya, dan mobil kru sebanyak 20 orang serta masing-masing satu kendaraan seperti crane PLN, pengangkut alat las dan compressor.

“Izin pengangkutan pada malam hari antara jam 21.00 WIB hingga jam 05.00 WIB. Setelah pukul 05.00 WIB, semua kendaraan berhenti di tempat pemberhentian seperti pengangkutan mesin pertama. Pada saat itu, berhenti di lingkar luar Salatiga di tempat luas yang sama sekali tidak mengganggu arus lalin.”

Dia bercerita ada kendala di perjalanan tetapi bisa diselesaikan. “Aliran listrik sempat dipadamkan beberapa menit untuk melintas alat tersebut karena sepanjang perjalanan Semarang-Sukoharjo banyak lintasan kabel listrik PLN. Sempat ada dua lintasan kabel listrik terbuka tanpa isolasi sehingga aliran listrik dipadamkan tetapi setelah alat wet scrubber sudah melewati kabel tersebut aliran listrik dihidupkan lagi. Kami memohon maaf atas dampak yang kurang mengenakan ini. Tim lengkap sehingga meski berdampak langsung teratasi dengan sangat cepat,” jelasnya.

Selain kabel terbuka, ujarnya, rintangan lain adalah jembatan layang. “Ada enam jembatan layang sehingga muatan harus diturunkan agar tidak tersangkut dan merusak jembatan. Ketiga tabung itu nantinya sebagai pengendali gas H2S.”

Salah seorang pemilik tempat indekos di sekitar pabrik PT RUM, Sunarto, mengaku melihat tabung besar sudah berada di pabrik. Dia belum mengetahui kegunaan tabung tersebut karena belum diberi tahu.

Koordinator Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo, Ari Suwarno, juga mengaku tak diberi tahu soal pemasangan Wet Scrubber apalagi diminta menyaksikan. “Kalau pengurasan WWTP [Waste Water Treatment Plant] diberi tahu tetapi untuk pemasangan Wet Scrubber tidak diberi tahu.”