Kuliner Klaten: Nikmatnya Tahu Kupat Berpadu Teh Poci Jadi Buruan Pejabat

Pengunjung menikmati tahu kupat dan teh poci di warung tahu kupat Bu Endang, Pluneng, Kebonarum, Klaten, Jumat (29/6 - 2018). (
02 Juli 2018 12:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Seporsi tahu kupat tersaji di meja panjang tepat di bawah jendela warung yang berada di Dukuh Simpar, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten, Jumat (29/6/2018).

Menu makanan itu di antaranya berisi tahu goreng, mi, kacang, irisan kubis, toge, irisan ketupat, seledri, dan kuah berbahan gula Jawa. Teh poci menjadi salah satu pilihan minuman menemani sajian tahu kupat. Untuk menikmatinya, pengunjung cukup menuangkan teh pada gelas kecil yang sudah disajikan dengan gula batu.

Rasa nikmat tahu kupat serta hangatnya teh poci semakin lengkap dengan suasana warung yang asri. Pemandangan sawah dengan padi menghijau terhampar di samping warung. Pemandangan itu dilengkapi bangunan los tembakau berbahan bambu. Suasana di dalam warung semakin sejuk dengan semilir angin yang melewati dua jendela.

Warung itu tepat berada di tepi Desa Pluneng. Lokasinya sekitar 500 meter dari kantor Kecamatan Kebonarum. Tak jauh dari warung itu, ada pemandian yang cukup terkenal di Kabupaten Bersinar yakni Umbul Tirtomulyono dan Umbul Tirtomulyani.

Warung itu kerap dikenal dengan nama Warung Tahu Kupat Bu Endang. Nama disematkan para pelanggan sesuai nama salah satu pengelolanya yakni Endang. Warung tahu kupat dirintis orangtua Endang bernama Trimo pada 1983. Sekitar 2014, Trimo meninggal dunia hingga warung dikelola Endang dan adiknya bernama Tari, 50, serta satu kerabat lainnya.

Foto: Tahu kupat dan teh poci Warung Tahu Kupat Bu Endang Kebonarum Klaten. (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Tari mengatakan sebelum mendirikan warung tahu kupat, ayahnya sudah memiliki keahlian membuat makanan tersebut. Saat itu Trimo masih berjualan tahu kupat dengan dipikul.

“Kalau ceritanya itu pada zaman kolonial bapak jualan gula sambil menjual tahu kupat dengan cara dipikul. Karena pada zaman itu serba susah, kemudian bapak bekerja di pabrik gula. Setelah pensiun bapak mendirikan warung ini dan berjualan tahu kupat lagi,” urai Tari saat berbincang dengan solopos.com, Jumat lalu.

Ide menggabungkan tahu kupat dan teh poci diperoleh Trimo semasa kerja di pabrik gula. Saat itu, Trimo bekerja di sepanjang jalur kereta gula dan kerap mendatangi warung ketika waktu istirahat tiba. “Dari warung-warung itu bapak sering melihat teh disajikan dengan poci,” ungkapnya.

Tari mengatakan saban hari ia bersama kerabatnya membutuhkan 10 kg beras untuk membuat ketupat. Jumlahnya meningkat saat Lebaran tiba lantaran jumlah pembeli meningkat tajam. Warung itu buka pukul 08.00 WIB-18.00 WIB. Warung kembali buka pada pukul 20.00 WIB-23.00 WIB.

Untuk menikmati seporsi tahu kupat, pengunjung cukup merogoh kocek Rp10.000. Sementara, seporsi teh poci seharga Rp5.000. Selain teh poci, warung itu juga menyajikan menu minuman lainnya. “Yang paling diminati itu teh poci. Untuk menu tahu kupat memang harganya meningkat sejak Lebaran lalu dari sebelumnya Rp9.000,” kata Tari.

Para pelanggan warung itu tak hanya dari Klaten. Warga dari luar kabupaten seperti Solo dan Jogja kerap berdatangan ke warung itu untuk menikmati sajian tahu kupat dan teh poci dengan suasana alam pedesaan berupa hamparan sawah. Warung itu juga menjadi langganan para pejabat. “Kalau siapa orang-orangnya saya tidak tahu,” katanya.

Salah satu pelanggan, Hakim, 45, mengaku ia mengunjungi warung tahu kupat itu satu hingga dua kali dalam sebulan. Salah satu yang menjadi daya tariknya mengunjungi warung itu yakni teh poci yang disajikan bersama tahu kupat.

“Ini yang cukup unik dan tidak ditemukan di warung lain. Kadangkala harus menunggu karena ruang terbatas saking banyaknya yang datang,” kata warga Kecamatan Ngawen itu.

Hakim menuturkan kerap bertemu dengan sejumlah pejabat di Klaten saat mengunjungi warung tersebut.

“Banyak anggota DPRD yang sering datang ke warung itu. Mungkin lokasinya menarik dan suasananya,” urai dia.

Tokopedia