Wonogiri Performing Art, Menari 12 Jam di Gedung Putih

Puluhan warga menyaksikan Wonogiri Performing Art, 12 Jam Menari di Istana Parnaraya, Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri, Minggu (1_7)
02 Juli 2018 07:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Peluh bercucuran di dahi Vika Aprilia, 6, kala kaki dan tangannya bergerak serempak mengikuti gending Jawa yang diputar dari sound system, Minggu (1/7/2018) siang.

Di halaman Istana Parnaraya, Desa Kebonagung, Kecamatan Sidoharjo, ia tampil bersama empat temannya menari Tarian Burung Pinsen. Siswi SD Negeri 4 Wonogiri itu menjadi penampil ke-12 dari 55 tari yang tersaji dalam Wonogiri Performing Art, 12 Jam Menari.

Total 320-an murid didik dari 12 sanggar di kabupaten berslogan Sukses itu unjuk gigi. Ini adalah kali pertama event berdurasi setengah hari tersebut digelar.

“Bangun pagi sekitar pukul 05.00 WIB langsung bersiap sarapan, dilanjut dandan. Latihannya setiap hari, tapi baru sepekan jadi sedikit deg-degan,” ucap Vika saat ditemui Solopos.com, seusai tampil.

Tarian Pinsen berkisah tentang kehidupan bebas burung yang terbang ke sana ke mari berburu pakan. Penggagas Wonogiri Performing Art, 12 Jam Menari, Handoko, mengatakan 12 sanggar yang ikut berasal dari Wonogiri dan sekitarnya.

Mereka adalah Lakshita Budaya, Setyo Giri, Kuswendra, Tri Wikrama, Lintang Kusuma, Sutanti, Lestari Budaya, Saka Budaya, Kahayuning Urip, Sahwahita, Batara, dan STABN. Mereka menampilkan tarian tradisional dan modern seperti Tari Gambyong, Warak Sintren, Terang Wulan, Janggrik Genggong, Caping, Candik Ayu, Kukilo, Kolosal Raden Wijaya, dan sebagainya. Rata-rata penampil berumur 3-18 tahun.

“Acara ini merupakan salah satu upaya nguri-uri budaya Jawa. Saat-saat sekarang, orang bisa saja lupa kalau kita punya budaya adiluhung yang wajib dilestarikan. Harapannya ini menjadi pembuka atau awal dari event-event serupa di Wonogiri,” kata Handoko, yang juga inisiator Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Lakshita Budaya itu.

General Manager Istana Parnaraya, Endang Istriningsih, mewakili Suparno Parnaraya, mengatakan istana menyediakan tempat sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat untuk kembali mencintai budaya lokal. “Kami juga mendorong mereka untuk menggelar lomba di acara selanjutnya agar semakin memunculkan semangat saat berlatih,” kata dia.