3 Warga Solo Terdampak Rel Ganda Ngotot Tak Mau Digusur

ilustrasi rel ganda. (Solopos/Dok)
03 Juli 2018 14:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah masih mengalami kendala dalam proses penertiban bangunan di tanah PT KAI wilayah Solo yang terdampak proyek pembangunan jalur rel ganda KA lintas Stasiun Solo Balapan-Stasiun Kedungbanteng, Sragen.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Balai Teknik Perekeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah, Yurisal Elmianto, mengatakan 414 bangunan di wilayah Solo yang tersebar di Gilingan, Tegalharjo, Jebres, Jagalan, dan Pucangsawit mesti dibongkar karena terdampak proyek pembangunan rel ganda lintas Stasiun Solo Balapan-Stasiun Kedungbanteng.

Dari jumlah itu, tinggal tiga rumah di wilayah Kelurahan Puncangsawit yang belum bisa dibongkar karena pemilik bangunan kukuh menolak tawaran nilai ganti rugi atau uang santunan dari Balai Teknik Perkeretaapian.

“Terkait warga yang belum mau pindah, ada sedikit kendala di Pucangsawit. Tiga warga di sana belum mau pindah karena belum sepakat dengan tawaran nilai uang santunan. Mereka minta dilakukan pengukuran ulang bangunan rumah yang terdampak,” kata Elmianto saat diwawancarai Solopos.com, Selasa (3/7/2018).

Elmianto menilai sikap warga tersebut jelas cukup mengganggu aktivitas pembangunan jalur ganda KA yang tengah dikerjakan Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah. Dia berharap tiga orang warga di Pucangsawit itu mau menyetujui tawaran nilai uang santuan yang dihitung secara fair oleh tim appraisal independen tersebut.

Dengan menyetujui tawaran nilai uang santunan itu menunjukkan warga ikut mendukung kelancaran proyek strategis nasional yang ditarget rampung akhir 2018 ini. Elmianto menyebut warga di bantaran rel seharusnya sudah mulai mengosongkan rumah pada akhir April lalu atau sepekan setelah jadwal pemberian uang santunan.

“Warga itu sebenanya sudah semakin diorangkan. Mereka selama ini kan sudah diperbolehkan tinggal di tanah negara. Giliran mau pindah, warga masih diberi uang santunan. Tapi memang masih ada sebagian warga yang meminta dilakukan pengukuran ulang. Ya kami coba memfasilitasi permintaan mereka itu,” jelas Elmianto.

Pejabat Humas Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah, Eko Budi Santoso, mengatakan proses pengukuran ulang tiga bangunan milik warga Pucangsawit kini sudah selesai dilakukan. Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah bakal menindaklanjuti hasil penilaian tim apprailsal independen itu dengan memanggil atau mengumpulkan lagi tiga warga yang masih keberatan dengan tawaran ganti rugi sebelumnya. Dia berharap warga bisa menerima tawaran uang santunan tersebut.

“Sekarang baru sebatas pengukuran ulang. Belum koordinasi lagi dengan warga yang masih menolak tawaran nilai uang santunan sebelumnya. Pada intinya, kami akan melakukan pendekatan dengan menjunjung kearifan lokal,” jelas Eko.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan Pengembangan Perkeretaapian Jawa Tengah Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Bagian Tengah, Aief Sudiatmoko, mengatakan per 2 Juli kemarin, perkembangan proyek pembangunan jalur ganda KA  lintas Stasiun Solo Balapan-Stasiun Kedungbanteng telah mencapai 73,12% selesai.

Dia optimistis double track tersebut bisa selesai dikerjakan dan dimanfaatkan pada akhir tahun ini juga. Jalur ganda itu bakal digunakan untuk menunjang operasional kereta rute Jakarta-Surabaya maupun Jogja-Solo-Surabaya.