Berbekal Nilai Tinggi Ortu Siswa Solo Abaikan Zonasi

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
04 Juli 2018 14:15 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Hari pertama pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru  (PPDB) online SD dan SMP di Kota Solo diwarnai pelanggaran zonasi, Selasa (3/7/2018). Kurangnya sosialisasi dari tingkat bawah membuat orang tua siswa belum paham betul penerapan zonasi sekolah.

Selain itu, masih banyak orang tua siswa yang tetap nekat mendaftarkan anaknya di sekolah luar zona dengan alasan nilai anaknya tinggi. Seperti yang terjadi di SMPN 1 Solo.

“Saya datang sejak pukul 08.30 WIB untuk mendaftarkan anak saya ke SMPN 1 Solo. Namun, setelah datang ke sekolah panitia menolak berkas pendaftaran dengan alasan alamat KTP yang digunakan masuk ke zonasi Banyuanyar. Sementara SMPN 1 Solo masuk zonasi Manahan,” ujar salah satu orang tua calon siswa, Pardiman, warga Banyuanyar, kepada Solopos.com, Selasa.

Pardiman menjelaskan kedatanganya ke SMPN 1 Solo atas permintaan anaknya yang ingin masuk sekolah favorit dengan modal nilai tinggi yakni 27,38. Namun, ternyata modal nilai tinggi tidak lagi bisa menjadi jaminan masuk ke sekolah favorit.

“Saya berharap Pemkot Solo mengevaluasi kebijakan zonasi sekolah  karena sangat merugikan siswa yang memiliki nilai tinggi,” kata dia.

SDN 16 Mangkubumen Kidul juga terpaksa menolak pendaftar lantaran alamat rumahnya di luar zona. “Sebanyak 23 calon siswa baru mendaftar di SDN 16 Mangkubumen Kidul. Dari jumlah tersebut yang berkasnya diterima hanya 21 pendaftar. Kami menolak berkas dua siswa karena terbukti melanggar zonasi PPDB online,” ujar Ketua Panitia PPDB Online SDN 16 Mangkubumen Kidul, Supriadi, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Selasa.

Ia menjelaskan dua pendaftar yang ditolak melanggar zonasi dengan alasan alamat rumahnya dekat dengan sekolah yakni Kelurahan Purwosari. Kemudian sekolah membiarkan orang tua itu mengisi formulir.

Setelah berkas dimasukkan ke sistem online tidak keluar bukti pendaftaran. Pendaftar yang tidak bisa mengambil surat bukti pendaftaran berarti berkasnya tidak sesuai zonasi.

“Kami beberapa kali memberikan penjelasan kepada orang tua siswa terkait mekanisme zonasi  saat mereka datang sekolah. Banyaknya orang tua yang bertanya bisa disimpulkan banyak orang tua siswa yang belum tahu terkait zonasi SD,” kata dia.

Salah satu orang tua calon siswa SD, Aminah, mengaku datang ke SDN 16 Mangkubumen Kidul untuk mendaftarkan anak dengan mengisi formulir pendaftaran. Namun, saat memasukkan data ke sistem online berkasnya ditolak dengan alasan alamat yang digunakan mendaftar masuk ke zonasi Kelurahan Purwosari.

“Saya kecewa tidak bisa mendaftar ke SDN 16. Lokasi rumah hanya seberang sekolah di wilayah Purwosari. Penerapan zonasi membuat anak tidak bisa leluasa memilih sekolah favorit meskipun nilai tinggi,” kata dia.