Pembangunan Flyover Purwosari Solo Bikin Warga Sekitar Cemas

Kendaraan melintas di perlintasan sebidang Purwosari, Laweyan, Solo, Rabu (4/7 - 2018) pagi. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
04 Juli 2018 15:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Kabar segera dimulainya pembangunan flyover (jalan layang) di perlintasan kereta api (KA) Purwosari, Solo, membuat warga sekitar waswas. Mereka meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Solo segera menyosialisasikan kepastian jadwal pembangunan flyover tersebut.

Seorang warga RT 001/RW 015 Kelurahan Sondakan, Laweyan, Sarmi, 49, cemas dengan rencana pembangunan flyover Purwosari karena dia memiliki tempat usaha di dekat perlintasan sebidang Purwosari. Besar kemungkinan tempat usahanya akan digusur ketika flyover mulai dibangun.

Sarmi memohon kepada Pemkot Solo tidak mendadak dalam memberikan informasi terkait jadwal pembangunan flyover Purwosari. Hal itu penting bagi dirinya agar bisa mempersiapkan lebih matang rencana pindah atau mencari tempat lain untuk melanjutkan usaha.

“Sampai sekarang belum ada sosialisasi sama sekali. Kami tentu cemas. Informasinya dulu flyover Purwsoari akan dibangun bersamaan dengan Manahan. Tapi nyatanya kan tidak jadi. Terus belakangan muncul kabar flyover Purwosari akan dibangun setelah Manahan. Ini yang kami ingin tahu kepastiannya. Apakah akan langsung dibangun akhir tahun ini? Atau masih 2019, 2020, dan seterusnya?” kata Sarmi saat ditemui Solopos.com di warung makannya, Rabu (4/7/2018).

Sarmi mengakui warung makannya sekarang berdiri di tanah PT KAI. Dia telah memanfaatkan lahan di pinggir Jl. Transito tersebut sejak 17 tahun lalu. Sarmi berharap Pemkot Solo bisa memberikan uang ganti rugi saat bangunan usahannya itu benar-benar harus dirobohkan karena terdampak proyek pembangunan flyover Purwosari.

Supaya adil, dia mengusulkan kepada Pemkot maupun PT KAI harus menertibkan juga bangunan lain di tanah PT KAI tepi Jl. Transito. Dia keberatan jika Pemkot Solo hanya membongkar bangunan ilegal yang berada di dekat perlintasan sebidang Purwosari.

“Kalau bisa warga yang terdampak proyek flyover bisa dapat ganti rugi berupa tempat pengganti meski ukurannya kecil. Tidak masalah ukurannya mau 4 meter persegi, 6 meter persegi atau 8 meter persegi. Yang penting tempatnya cukup untuk jualan dan juga bisa ditinggali seperti yang ada sekarang,” harap Sarmi.

Salah seorang warga Pabelan, Sukoharjo, Kurniawan, 34, juga penasaran dengan rencana pembangunan flyover Purwosari. Kurniawan yang sehari-hari bekerja di salah satu rumah produksi kain batik di Sondakan tersebut ingin mengetahui jalur alternatif yang bakal disiapkan jika perlintasan sebidang Purwsoari ditutup saat proyek pembangunan flyover.

Dia berharap pemerintah bisa menyediakan perlintasan sementara di dekat perlintasan sebidang yang ada sekarang saat proses pembangunan. Hal itu diperlukan agar para pengendara tidak perlu memutar terlalu jauh ketika perlintasan sebidang Purwsosari ditutup untuk pembangunan flyover.

“Kalau perlintasan sini ditutup berarti saya harus memutar jalan lewat Makamhaji ya? Kalau lewat Manahan kan memutarnya lebih jauh. Yang jelas penutupan perlintasan sebidang Purwosari bakal merugikan kami yang setiap harinya lewat sini. Kami kan harus keluar biaya tambahan untuk bensin. Harapannya ya tetap disediakan akses jalan di perlintasan sebidang,” kata Kurniawan saat ditemui Solopos.com di selter buah Purwosari.