PPDB Solo: Serbu Sekolah Perbatasan, Puluhan Pendaftar Luar Kota Ditolak

ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
04 Juli 2018 17:15 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sistem zonasi yang diterapkan pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online mulai tahun ajaran baru 2018/2019 ini tak menyurutkan niat warga luar kota untuk mendaftarkan anak mereka ke sekolah di Kota Solo. Akibatnya, berkas pendaftaran mereka ditolak karena berada di luar zona.

Di SDN Sayangan, Laweyan, misalnya, pada hari pertama PPDB 2018 Kota Solo, Selasa (3/7/2018), dari 41 siswa yang mendaftar hanya tiga siswa yang berkasnya diterima. Sebanyak 38 berkas ditolak karena alamatnya di luar Kota Solo.

“Sebanyak 27 dari 41 pendaftar tercatat sebagai warga Desa Cemani, Grogol, Sukoharjo. Kemudian 14 pendaftar diketahui merupakan warga Pajang. Kami mencatat sebanyak 70% pendaftar SDN Sayangan merupakan warga Desa Cemani,” ujar operator komputer PPDB online  SDN Sayangan, Giyanto, kepada Solopos.com.

Ia menambahkan sebagian besar pertimbangan orang tua siswa ingin menyekolahkan anak mereka di SDN Sayangan karena jaraknya lebih dekat. Di daerah perbatasan Desa Cemani dan Laweyan yang paling dekat adalah SDN Sayangan.

“Kami sebenarnya juga kasihan dengan calon siswa dari Desa Cemani karena tidak bisa sekolah yang lebih dekat dengan rumah mereka. Namun, karena zonasi, sekolah tidak bisa berbuat banyak,” kata dia.

Kondisi serupa terjadi di SMPN 9 Solo. Pantauan Solopos.com di sekolah yang terletak di wilayah perbatasan dengan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, itu sudah ada 180 pendaftar pada hari pertama PPDB online, Selasa. Kuota siswa baru sekolah tersebut 288 anak.

“Lokasi sekolah SMPN 9 Solo merupakan daerah perbatasan dengan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Sebagai sekolah pinggiran antusiasme masyarakat untuk masuk ke sekolah ini sangat luar biasa. Kami masih menemukan ada calon siswa dari Sukoharjo masuk ke SMPN 9 Solo. Karena tidak sesuai zonasi, berkasnya ditolak,” kata dia.