Kekeringan Sragen: Dasar Sungai Pun Dilubangi Demi Air Bersih

Warga beraktivitas di dasar sungai yang mengering di Dusun Glagah, Desa Dukuh, Tangen, Sragen, Selasa (3/7 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
04 Juli 2018 10:40 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Terik matahari cukup menyengat, Selasa (3/7/2018) siang. Yanti, 23, warga Dusun Glagah RT 032, Desa Dukuh, Tangen, Sragen, terus mengucek pakaian di tengah dasar sungai yang sudah tak berair.

Ia memanfaatkan kubangan di tengah sungai berbentuk seperti lingkaran dengan diameter 50 cm. Kubangan itu digali warga untuk mendapatkan air bersih. Ia duduk beralaskan batu kali.

Sesekali tangan kanannya mengambil air di kubangan itu dengan gayung plastik untuk mengguyur pakaian yang baru saja dikucek. Di belakangnya ada Paniyem, 52, tetangga Yanti, bersama cucunya mengemas pakaian yang selesai dicuci.

Pakaian itu dimasukkan ke ember hitam lalu digendong pulang. Ia melewati jalan setapak di dasar sungai dan menaiki tebing sungai hingga ke pematang sawah di sebelah timur sungai.

Yanti masih bertahan. Pakaian kotor yang belum dicuci masih seember berdiameter 50 cm. Setelah membilas pakaian, giliran seember pakaian itu dibasahi dengan air yang sudah dicampur deterjen.

“Kalau untuk cuci dan mandi mengandalkan air di belik dasar sungai ini. Tetapi kalau untuk kebutuhan minum dan memasak mengambil di sumur umum [komunal] di lingkungan RT 032,” ujar Yanti saat berbincang dengan wartawan, Selasa siang.

Di sekitar tempat Yanti mencuci ada empat belik yang penuh air jernih. Belik yang digunakan Yanti yang paling besar sumbernya meskipun hanya sedalam 30 cm. Ada satu belik dengan kedalaman selutut yang disedot warga menggunakan pompa air.

Kendati disedot, air di belik berdiamter 40 cm itu tak pernah habis. Belik-belik itu menjadi andalan warga di lingkungan RT 032 dan RT 033.

Sekitar dua meter arah barat daya tempat Yanti duduk ada kelenting berbahan gerabah yang penuh air bening. Kelenting itu milik Suro, 60, warga RT 030 Glagah. Kelenting itu ditinggal di situ untuk sementara.

Suro bersama suaminya memanfaatkan air bekas cucian Yanti untuk menyirami tanaman tebu yang baru bertunas di sebelah barat sungai. Air limbah cucian itu ditampung dalam sebuah kubangan cukup besar sedalam 30 cm. Air itu kemudian disedot pakai mesin pompa air untuk mengoncori tanaman tebunya.

“Mau difoto ta, Le?” kata Suro yang datang tiba-tiba saat para wartawan asyik berbincang dengan Yanti.

Tanpa basa-basi, Suro langsung mengambil porong plastik yang sudah robek di bagian pangkalnya sebagai gayung. Porong itu digunakan mengambil air dan dibuang begitu saja untuk menambah volume air di tampungan limbah cucian agar mencukupi untuk menyirami tanaman tebunya. Kendati diambili terus, air di belik itu tak habis.

“Sudah lama warga Glagah kekurangan air bersih. Kalau dua bulan sudah ada ya, Mbah,” keluh Yanti kepada Suro.

Saat musim kemarau, banyak sumur warga mengering, seperti sumur permukaan milik Suro. Kendati sudah usia lanjut, Suro masih kuat berjalan menggendong kelenting berisi penuh air dari rumahnya ke sungai yang jaraknya sampai 1,5 km.

“Sehari bisa sampai 10 kali ambil air di belik ini. Rumah saya jauh, 1,5 km ada. Alhamdulillah masih kuat. Mau sambat anak sudah berkeluarga semua. Ternyata masih kuat sampai sekarang,” ujar Suro.

Suro sempat mengeluh saat ditariki uang Rp5.000/orang oleh warga setempat dengan dalih untuk beli rokok sopir saat bantuan air bersih menggunakan truk tangki dari Pemkab Sragen datang setiap musim kemarau.

“Orang dari pemerintah itu sudah dapat gaji kok masih ditariki Rp5.000. Daripada bayar Rp5.000 ya lebih baik saya jalan kaki ambil air di sungai ini setiap hari. Uang Rp5.000 bisa beli tempe untuk makan seharian,” keluhnya.



Tokopedia