Pemuda Boyolayar Sragen Ubah Alam Liar Jadi Wisata Eksotis

Keindahan perairan WKO di lokasi swafoto perahu di Wisata Alam dan Bumi Perkemahan Boyolayar, Ngargosari, Sumberlawang, Sragen, Sabtu (30/6 - 2018). (Istimewa/Sajimin)
04 Juli 2018 13:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Dukuh terpencil di pinggiran Waduk Kedung Ombo (WKO) ini memiliki keindahan alam yang eksotis. Menyadari potensi itu, para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Tunas Muda RT 006 dan RT 027, Dukuh Boyolayar, Desa Ngargosari, Sumberlawang, Sragen, berinisiatif menyulap lahan tak terurus yang hanya ditumbuhi semak belukar dan alang-alang itu menjadi objek wisata alam yang menarik.

Ketua Karang Taruna Tunas Muda, Sajimin, 37, bersama anggotanya menggagas wisata alam kreatif itu sejak sebulan lalu. Ide kreatif itu muncul ketika Wisata Air Waduk Kedung Ombo (WKO) di wilayah Kabupaten Grobogan ditutup.

Mbah Ji, sapaan akrabnya, berdiskusi dengan teman-temannya untuk membuat objek wisata alternatif kemudian lahir lah konsep Wisata Alam dan Bumi Perkemahan Boyolayar. Lokasi itu menempati lahan sabuk hijau seluas 100 meter persegi dan lahan warga seluar 10.000 meter persegi.

Objek wisata itu terletak 10 km dari pusat kota Kecamatan Sumberlawang. Untuk menuju ke lokasi itu harus melalui jalan naik turun dan melewati hutan milik Perum Perhutani sejauh 5 km. Infrastruktur jalannya sudah bagus dan hanya sekitar 1,5 kilometer yang kurang bagus.

“Ide kreatif itu muncul awalnya hanya membuat tempat menongkrong anak muda. Kami membuat lokasi swafoto dan ada fasilitas perahu layar yang berkapasitas 20-25 orang,” ujar Mbah Ji saat berbincang dengan Solopos.com lewat telepon, Sabtu (30/6/2018).

Mbah Ji menyulap lahan itu menjadi wisata alam untuk memelihara dan merawat sabuk hijau. Ia berobsesi pengembangan wisata buatan itu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Dukuh Boyolayar. Hampir semua lokasi swafoto didesain dengan bahan dasar bambu dan alang-alang serta kayu atau batu di sekitar waduk.

Bambu diperoleh dari tegalan milik warga dengan cara menyeberangi WKO sejauh ratusan meter. Sementara alang-alang liar didapat dengan memangkas di lahan setempat.

“Semua bahan itu dibuat menjadi lima spot selfie. Spot pertama didesain berupa perahu yang menjorong ke waduk dari ketinggian 5 meter. Perahu berbahan bambu itu dibentuk perahu dan dicat. Dari tempat itu pengunjung bisa menikmati keindahan perairan WKO yang memantulkan warna langin biru dan matahari saat hendak terbenam,” ujar Mbah Ji.

Selain spot perahu, masih ada empat spot swafoto lainnya, yakni rumah pohon pada ketinggian empat meter dengan memanfaatkan pohon akasia. Di rumah pohon itu juga bisa melihat hamparan bukit di pinggir WKO Sragen. Ada lagi lokasi swafoto yang dikonsep dengan love-love, yakni tempat menongkrong berbentuk daun cinta dari bambu dan tempat swafoto berbentuk daun cinta dari bahan kayu jati.

Spot terakhir berupa tempat ayam bertelur dalam ukuran besar yang dibuat dengan memanfaatkan daun alang-alang kering. Semua tempat swafoto itu masih dalam satu kompleks di wisata alam tersebut.

“Selain tempat swafoto, kami juga menyediakan jasa berlayar dengan perahu. Kami memasang tarif Rp10.000/orang untuk belajar keliling WKO dengan perahu berkapasitas 20-25 orang. Perahu itu sudah ada izin operasional dan dilengkapi pengamanan memadai, salah satunya pelampung bagi penumpang. Yang paling menarik, sambil menikmati keindahan alam juga bisa menikmati ikan nila bakar yang berasal dari keramba,” ujarnya.

Selama ini, Mbah Ji mempromosikan wisata alamnya lewat Facebook atau dari mulut ke mulut. Ia belum memasang loket masuk tetapi hanya menempatkan kotak sukarela di depan pintu masuk. Setiap harinya bisa mendatangkan pemasukan Rp30.000-Rp60.000.

“Pemerintah desa sangat mendukung. Ke depan kami akan membuat wisata outbond juga,” imbuhnya.

Ketua RT 027 Boyolayar, Harwito, mengapresiasi kreativitas anak muda yang tergabung dalam Karang Taruna Tunas Muda. Dengan bermodal tenaga, kata dia, mereka bisa mengubah alam liar menjadi wisata alam tanpa merusak alam tetapu justru menjaga ekosistem alam.

“Ide itu muncul dari gagasan-gagasan yang muncul saat rapat bulanan. Masyarakat sekitar mendukung program mereka dalam bentuk memberi fasilitas bahan dan makanan saat bekerja bakti bersama,” tuturnya.

Harwito berharap wisata alam Boyolayar itu bisa menjadi ikon Sumberlawang khususnya atau Sragen pada umumnya. Dia menilai semangat anak muda itu membuktikan kepada Pemkab Sragen bahwa Boyolayar yang daerah terpencil memiliki potensi  yang luar biasa.

“Wisata alam Boyolayar ini bisa menjadi wisata alternatif pengganti wisata WKO di Grobogan,” harapnya.