Kades Sedayu Klaten dan Anaknya Jadi Tersangka Korupsi APB Desa

ilustrasi korupsi. (Solopos/Whisnu Paksa)
04 Juli 2018 11:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Kepala Desa (Kades) Sedayu, Kecamatan Tulung, Klaten, Sugiyarti, ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyimpangan  Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Desa 2016. Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama anak kandungnya, Nurul Yulianto, (Yuli), yang menjabat Kadus I Desa Sedayu.

Penetapan tersangka Kades Sedayu dan anaknya oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Klaten dilakukan pada 28 Juni lalu. Keduanya diduga terlibat dalam penyimpangan sejumlah proyek yang didanai APB Desa 2016 sehingga mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp206 juta.

"Iya benar, setelah dilakukan pemanggilan saksi-saksi, keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kerugian negara yang ditimbulkan mencapai Rp206 juta," kata Kasi Intel Kejari Klaten, Masruri Abdul Aziz, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (3/7/2018).

Sementara itu, saat dimintai konfirmasi Solopos.com, Nurul Yulianto tak memberikan respons. Ponsel Yuli tidak aktif. Pesan Whatsapp Solopos.com hanya dibaca lalu nomor telepon Solopos.com diblokir.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Januari 2018 lalu, Yuli dan Sugiyarti dilaporkan warga atas dugaan penyimpangan  sejumlah proyek dari Dana Desa dan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) 2016. Salah satu proyek yang dilaporkan adalah dugaan mark up pembelian semen untuk betonisasi jalan kampung dan pemasangan keramik lantai kantor desa dengan kerugian mencapai sekitar Rp100 juta.

Warga menemukan dugaan penggembungan dana pembelian keramik seluas 54 meter persegi menghabiskan dana Rp10 juta. Padahal, dengan kualitas yang sama, harga keramik di pasaran hanya Rp60.000. Artinya, pembelian keramik seharusnya hanya menghabiskan Rp3.240.000.

Warga juga melaporkan dugaan pemalsuan tanda tangan atas pembayaran upah tenaga dalam proyek betonisasi jalan di Dukuh Kranggan. Dalam laporan itu tertulis biaya upah Rp65.000 untuk tukang dan Rp50.000 untuk tenaga selama enam hari. Total ada 12 orang termasuk tukang dan tenaga.

Padahal, pengerjaan betonisasi dilakukan secara gotong royong. Dana yang dilaporkan untuk betonisasi jalan menelan Rp42 juta. Padahal, realisasinya menghabiskan sekitar Rp25 juta. Yuli dan Sugiyarti dilaporkan atas sederet proyek lain yang ditaksir menimbulkan kerugian negara Rp209 juta.